TOP OPINI FOOTBALL
Buffon, Maestro yang Akhirnya Berhenti Membuat Pertaruhan
17 November 2017 04:35 WIB
berita
Fhilip Makati Sitepu  

Disengaja atau tidak, dalam perjalanan karier setiap pesepak bola profesional ada pertaruhan terakhir yang mesti dibuat. Pertaruhan tersebut adalah: pensiun tepat setelah menggapai puncak tertinggi atau sebaliknya, berhenti di titik terendah! Khusus untuk mereka yang berhenti di titik terendah, tolok ukurnya terbagi tiga.

Ada pemain yang memutuskan pensiun, lantaran peran maupun kehadirannya seolah-olah menghilang. Nama si pesepak bola ini masih terdaftar dalam timnya, tapi nyaris nihil kesempatan bertanding. Dia terbuang, lebih tepatnya tak lagi dibutuhkan di lapangan padahal masih ingin membantu. 

Selanjutnya, mereka yang mengakhiri karier dengan senyuman meski bukan di tempat semestinya. Mereka terpaksa pergi dari klub tercintanya menuju klub/liga lain yang notabene lebih kecil. Andai harus memberi contoh, saya sebut nama Raul Gonzales, Alessandro Nesta, atau Steven Gerrard.   
  
Adapun, nasib pemain yang berhenti di titik terendah berikutnya terbilang sangat miris. Sebab, seorang pesepak bola itu memutuskan pensiun dengan membawa kegagalan besar! Nasib tersebutlah yang baru saja melanda penjaga gawang kenamaan Italia, Gianluigi “Gigi” Buffon. 

Karier pria berusia 39 tahun ini bersama timnas terhenti secara menyesakkan. Buffon dan rekan-rekan setimnya gagal meloloskan “Gli Azzurri” ke Piala Dunia 2018. Langkah mereka kandas oleh timnas Swedia di babak play-off zona Eropa. 
Pertaruhan Buffon yang mencanangkan pensiun selepas perhelatan Piala Dunia 2018 Rusia tidak terwujud. Di San Siro, Senin (13/11), Gigi harus mengumumkan perpisahannya dengan timnas penuh uraian air mata. “Sangat mengecewakan, karena kami gagal melakukan sesuatu yang penting bagi negara,” ujar Buffon.

Sepanjang karier (Buffon masih akan memperkuat Juventus hingga akhir 2017/18), Gigi berkali-kali membuat pertaruhan. Beberapa di antaranya berujung manis, namun tak sedikit pula yang berujung perih. Sekitar 26 tahun silam, Buffon yang kala itu baru berusia 13 tahun berani mempertaruhkan nasib. 

Ia memilih tim muda Parma, alih-alih menerima tawaran bergabung akademi sepak bola AC Milan. Padahal, pada masa itu, sepak terjang “I Rossoneri” sedang membius jagad sepak bola. Melalui skuat “The Dream Team”, yang disisipi nama-nama beken jebolan akademi (Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta), Milan berjaya di Italia serta Eropa. 
Buffon bersikukuh dan yakin Parma adalah klub yang pas. Uniknya, selama di akademi “I Gialloblu”, kiper kelahiran Tuscany ini sempat mencoba sejumlah posisi. Satu peran yang cukup intens dijalani oleh Buffon adalah bermain sebagai gelandang. 

Buffon baru tertarik menjaga gawang, gara-gara terinspirasi penampilan berkesan nan memukau Thomas N’Kono, kiper kebanggaan timnas Kamerun (1976–1994). Tak sampai dua pekan proses adaptasi, Buffon terpilih menjadi kiper utama tim akademi Parma.

Pertaruhan terhadap posisi portiere ini, pada akhirnya membawa Buffon kepada karier yang menakjubkan. Gigi bahkan tercatat sebagai kiper dengan rekor transfer kepindahan termahal di dunia hingga sekarang. Dibanderol 52 juta Euro (Rp 832 miliar), Buffon menutup masa 10 tahun indah bersama Parma menuju Juve (3 Juli 2001). 

Kepindahan itu juga merupakan sebuah pertaruhan berikutnya yang diambil Buffon. Mengapa demikian? Sebab tunangan Illaria D’Amico (presenter olah raga kenamaan Italia) ini rela menolak proposal AS Roma. Gigi yang sedang “dirasuki” hasrat memenangkan scudetto, justru mengabaikan pinangan klub juara bertahan Seri A.

Lalu, bagaimana hasil akhir pertaruhan kali ini? Buffon dan Juve meraih scudetto secara back to back (2001/02 dan 2002/03). Selang lima tahun sejak bergabung dengan “Si Nyonya Besar”, tiba-tiba momentum gelap menghampiri Buffon. 
Dirinya dihadapkan ke dua pilihan: Bertahan bersama Juve yang didegradasi ke Seri B (imbas kasus Calciopoli) atau mencari pelabuhan baru. Saat itu Buffon menginjak 28 tahun, usia emas pesepak bola, serta baru memenangkan Piala Dunia. Namun sekali lagi, Gigi berani mempertaruhkan nasib kariernya dengan setia di “I Bianconeri”. 

Paling Menyiksa
Cerita petualangan Buffon di Turin berlanjut, walau sempat berpeluh-peluhan di Seri B selama setahun. Gigi sendiri mengaku tidak menyesal ikut Juve ke kasta kedua kompetisi Liga Italia (2006/07). Toh seiring waktu, klub milik keluarga Agnelli ini bangkit dan kembali merajai Seri A. 

Kalaupun ada pertaruhan yang paling menyiksa batin Buffon, tak lain kandasnya peluang Italia ke Piala Dunia 2018. Gigi memang sudah bertaruh dengan menunda waktu pensiunnya demi tampil di Rusia tahun depan. Buffon bisa saja berhenti lebih awal, kemudian mengalihkan tongkat estafet kepada junior-juniornya.
 
Hanya saja, pencapaian buruk “Gli Azzurri” di Piala Dunia 2014, kekalahan memalukan di Final Euro 2012 serta dieliminasi Jerman (perempat final Euro 2016) seakan “menggoda” Buffon untuk memasang taruhan lagi dan lagi. Gigi masih yakin, sejatinya ada cara berpamitan yang lebih manis dengan timnas Italia. 

Namun apa mau dikata lagi, faktanya “Gli Azzurri” tak kuasa melewati hadangan timnas Swedia. Buffon pun akhirnya menangis, gestur yang tidak umum dilihat dari dirinya. Gigi dikenal memiliki pembawaan pria sejati sekaligus atlet besar, lantaran sanggup berlapang dada menerima kekalahan. 

Buffon gagal memenangkan Juve di tiga final Liga Champions, sehingga membuatnya bak “roh penasaran”. Tapi, ia pantang untuk menangisi setiap momen tersebut. Ya, mungkin karena Buffon setidaknya masih punya satu kesempatan yang dapat diperjuangkan pada musim ini. 

Tapi berbeda dengan upaya mengejar tambahan pencapaian bersama Italia, Buffon justru kehabisan waktu. Tanpa Piala Dunia 2018, maka tak ada pargelaran lain yang bisa diikuti Buffon dengan seragam “Gli Azzurri”. Gigi pun akhirnya mengetahui jawaban atas pertaruhan terakhirnya, yakni pensiun (dari timnas) di titik terendah.

Terlepas dari kenyataan pahit tersebut, sosok Buffon tetaplah pantas menuai respek. Anda boleh saja bukan orang Italia, bukan pendukung Juve atau bukan penggemar Buffon, namun Anda tidak boleh tidak menyaluti pemain satu ini. Sebab, terlalu banyak kesan manis yang diberikan Gigi sepanjang perjalanan karier sepak bolanya.

Dan tentu saja, kesan-kesan manis tersebut bakal jauh lebih membekas di hati ketimbang pertaruhan terakhirnya yang tragis. Jangan pula lupa, Buffon masih berkesempatan mengukir indah cerita pensiunnya yang lain (bersama Juve). “Saya tidak suka melihat Anda seperti itu! Anda masih harus menyenangkan kami dalam sepak bola, teman!” ucap Iker Cassilas lewat akun twitter-nya. 

Nasib Buffon mirip-mirip seperti Maldini, Totti, Nesta atau Roberto Baggio.Walau kurang mulus menutup akhir kariernya, tapi hingga hari ini kebesaran mereka tetap dibahas dan dipuja. 

Grazie ragazzi, Buffon (terima kasih banyak, Buffon)! Untuk dedikasi, gairah, perjuangan serta keberanian Anda membuat pertaruhan yang menjadikan olah raga favorit sejuta umat ini jadi semakin menarik. Salute***


Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

 

n
Penulis
nana sumarna