TOP OPINI FOOTBALL
Mencermati Lahirnya Kurikulum Sepak Bola Nasional
11 November 2017 04:25 WIB
berita
Drs.Supartono, M.Pd.

Pengurus baru, program baru, harapan baru. Kamis (9/11/2017) di Kantor PSSI, Grand Rubina, Kuningan, Jakarta Selatan, PSSI meluncurkan buku kurikulum pembinaan sepak bola Indonesia. Buku tersebut berisi soal filosofi sepakbola Indonesia yang diharapkan bisa menjadi pegangan seluruh pihak dalam membangun sepak bola di Tanah Air.

Buku Kurikulum Pembinaan Sepak Bola Indonesia itu berisikan 166 halaman. Di dalamnya dijelaskan soal bagaimana cara pembinaan usia muda, seperti cara melatih pemain dari usia enam tahun sampai sembilan tahun. Dengan diluncurkannya buku tersebut, PSSI mengajak semua pihak yang peduli dengan sepak bola di Indonesia untuk bersama-sama menyebarkan buku ini.
 
Secara umum, pengertian kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Apakah Kurikulum Sepak Bola Nasional yang dirancang PSSI sudah memuat seluruh aspek komponen standar kurikulum, yaitu tujuan, materi, strategi, pembelajaran, organisasi kurikulum, dan evaluasi sesuai periode jenjang umur pemain.

Tersusun dalam enam bab, lahirnya buku ini bertujuan agar pemain tidak hanya wajib memiliki skill yang bagus, tapi juga wajib cerdas. Kehadiran buku kurikulum yang bisa saya sebut sebagai produk Kurikulum Sepak Bola Nasional pertama yang dilahirkan oleh PSSI, tentu menjadi mata tombak yang dapat menyatukan visi-misi-tujuan PSSI dalam membangun sepak bola nasional. Agar lahir pesepak bola nasional yang memiliki standar nasional dan memainkan sepak bola dengan gaya “Indonesian Way”.

Selama ini, kursi pemain tim nasional sepak bola Indonesia saya katakan dapat diraih dengan mudah. Dapat bermain bola dengan baik di lapangan, terlihat menonjol skill individu, dibumbui intrik politik maka akan dilirik pelatih nasional. Sering kali, bahkan selalu, terpilihnya pemain masuk timnas hanya dilihat dari dua aspek, yaitu teknik dan fisik. 
Karena hanya mengandalkan dua sektor, maka kejadiannya, prestasi timnas selalu terpuruk. Faktanya, mulai pelatihan dari sepak bola akar rumput hingga klub, para pemain memang lebih fokus dicekoki menu skill dan speed oleh para pelatihnya. Jadi, publik sepak bola nasional seringkali mengumpat mengapa pemain timnas terlihat bodoh dan lemah mental saat menghadapi lawan di setiap level.

Hadirnya Buku Kurikulum ini, sewajibnya menjadi jembatan untuk para pelatih sepak bola memahami betul keberadaan dirinya sebagai pelatih. Bukan hanya dituntut untuk membentuk pemain dari segi skill dan speed, namun justru, para pemain wajib terlebih dahulu terbentuk aspek kecerdasan dan mentalnya. Di situlah hakikatnya pembinaan dan pelatihan sepak bola yang terdidik!

Pelatih itu sama dengan guru. Maka, skill pelatih juga wajib lulus standar layaknya guru. Bila kini, seluruh sekolah formal bahkan mewajibkan seluruh gurunya berijazah S1 dan memiliki Ijazah Akta 4 untuk syarat mengajar, maka bagaimana dengan para pelatih sepak bola kita yang hanya memiliki sertifikat pelatih. Bahkan, untuk memperoleh sertifikat hanya ditempuh dalam hitungan hari. Di mana aspek pendidikan yang mengajarkan para pelatih dapat membimbing dan mendidik pemain dari sudut kecerdasan dan sikap?

Membaca Buku Kurikulum Sepak Bola Nasional, ternyata empat aspek (teknik, intelegensi, personaliti, dan speed) tidak terjabar secara spesifik. Padahal harapannya, lahirnya buku tersebut dapat memandu calon pemain nasional yang cerdas. Untuk membentuk pemain yang cerdas dan bermental baik, sangat diperlukan acuan yang kongkret dan dapat dijabarkan oleh para pelatih layaknya seorang guru yang mengajar di kelas.
 
Misal, jika materinya adalah passing, maka seorang pemain akan dapat mempraktikkan passing sesuai teori dan benar sesuai kebutuhan. Sesuai dengan situasi dan kondisi, hingga melakukan passing yang efektif, tidak merepotkan diri sendiri, maupun teman dalam tim yang diumpan passing itu. 

Di situlah terjadi kolaborasi empat aspek standar pemain. Pemain melakukan passing dengan teknik yang benar sesuai teori, pemain cerdas otak serta mampu mengontrol diri saat passing dengan melihat posisi teman, dan menggunakan fisiknya untuk melakukan passing sesuai dengan kekuatan fisik yang dibutuhkan.

Betapa indahnya materi passing bila dilakukan dengan benar sesuai empat standar pemain. Maka, bermain sepak bola ala tiki-taka akan terwujud. Banyak pemain, melakukan passing yang benar saja masih salah, tetapi sudah melakukan passing dengan “gaya”.

Pegangan Pelatih
Bila mengacu kurikulum pendidikan sekolah formal, yang namanya kurikulum adalah sumber pokok acuan arah pendidikan dan pembelajaran di kelas. Dari kurikulum pendidikan yang lengkap dan memiliki lima komponen utama itu, maka akan lahir buku pegangan guru dan buku pegangan siswa dalam rangka pembelajaran di kelas. 

Jadi, dengan lahirnya Kurikulum Sepak Bola Nasional ini, baru langkah awal bagi Asprov, Askot, Askab, Klub, SSB, dan Akademi Sepak Bola untuk memulai pelatihan sepak bola yang benar. Nantinya, harus lahir buku panduan pegangan pelatih. Harus lahir buku panduan pegangan pemain sesuai acuan Buku Kurikulum Sepak Bola Nasional. 

Buku Kurikulum Sepak Bola Nasional harus lebih terjabar lagi agar cara pelatihan yang disampaikan oleh para pelatih di lapangan lebih terstruktur, terprogram, dan mengakomodasi aspek pedagogik (kognisi, afekti, dan psikomotor) pemain. Lalu, para pelatih sepak bola juga wajib mendapatkan pelatihan mengajar layaknya calon guru sekolah formal. Apakah kursus lisensi D, C, dan seterusnya. Bila belum, maka harapan pemain sepak bola nasional bermain cerdas dan berbudi pekerti luhur akan mustahil.

Sedikit catatan, saat proses penyusunan buku kurikulum ini, PSSI tidak melibatkan Asprov, Askot, dan Askab, juga tidak melibatkan tenaga ahli kurikulum dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Apakah Buku Kurikulum Sepak Bola Nasional ini laik pakai meski belum ada uji cobanya? Adakah PSSI telah menelurkan surat keputusan tentang lahirnya buku kurikulum ini, yang wajib digunakan di seluruh pelatihan dan pembinaan sepak bola di bawah naungan PSSI? Semoga, Buku Kurikulum Sepak bola Nasional ini bisa menyatukan visi misi dan tujuan merengkuh prestasi sepak bola nasional dengan satu filosofi. Amin.***


Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna