TOP OPINI FOOTBALL
I Am Still Human
07 November 2017 04:25 WIB
berita
Bambang Pamungkas

PERSIJA Jakarta Vs Persib Bandung, sebuah partai yang selalu menyita perhatian pecinta sepak bola di negeri ini. Tensi panas baik di dalam maupun di luar lapangan selalu meninggalkan catatan menarik di setiap gelaran laga berjuluk “Derby Indonesia” tersebut. Termasuk juga laga yang digelar di Stadion Manahan kota Solo, Jum’at, 3 November 2017 yang lalu. Pertandingan yang terpaksa dimainkan di luar Jakarta karena alasan keamanan itu, meninggalkan cerita yang mungkin akan kita perdebatkan hingga puluhan tahun kedepan.

Pada tulisan ini saya lebih tertarik membahas mengenai kejadian-kejadian krusial serta kontroversial yang membuat tensi pertandingan menjadi semakin panas dan menarik. Ini mungkin jadi momen paling krusial dalam laga yang berlangsung di bawah guyuran hujan lebat tersebut. Tidak terbantahkan jika sundulan striker asal Chad tersebut memang sudah melewati garis gawang. Bola menyentuh jaring dan kemudian memantul keluar. Sayangnya, wasit utama tidak melihat kejadian tersebut. Ketika itu terjadi, semua pemain Persija pun sudah pasrah menerima gol tersebut.

Namun tidak terdengar bunyi peluit wasit tanda gol telah terjadi, hal tersebut membuat saya yang ketika itu menguasai bola pun menjadi ragu. Saat melihat ke arah wasit dan wasit tidak menunjuk titik tengah, maka secara otomatis saya pun membuang bola ke depan.

Seketika terjadilah protes keras dari pemain Persib kepada wasit. Ketika protes terjadi tidak ada satu pun pemain Persija yang berusaha untuk memengaruhi wasit agar tetap pada keputusannya. Karena, kami sadar jika bola tersebut memang sudah menyentuh jaring. Jadi perdebatan tersebut terjadi antara pemain Persib dengan wasit. Untuk memastikan keputusannya, wasit utama pun bertanya kepada hakim garis, memang demikianlah aturan yang saya tahu, karena hakim garis seharusnya memiliki sudut pandang yang lebih jelas.

Sayang hakim garis pun menganggap jika bola belum melewati garis gawang. Oleh karena itu wasit utama tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikan gol kepada Persib. Hujan lebat yang mengguyur Stadion Manahan sore itu mungkin mengganggu penglihatan wasit dan hakim garis.

Banyak orang (terutama pendukung Persib) menghakimi saya atas reaksi saya terhadap gol tersebut. Mereka berharap saya menghentikan pertandingan, dan meminta wasit mengesahkan gol tersebut.

Well, mari kita bicara dari hati ke hati secara jujur. Seandainya peristiwa tersebut terjadi di gawang Persib saat melawan Persija, dan wasit memberi gestur untuk melanjutkan pertandingan, apakah Anda berharap pemain Persib melakukan tindakan seperti yang Anda harapkan dari saya? Katakanlah ada pemain Persib dengan besar hati melakukan hal tersebut, apakah kira-kira Anda bisa memahami dan menerima keputusan pemain tersebut?

Agak sedikit sulit rasanya membayangkan pendukung Inggris berharap Manuel Neuer menghentikan pertandingan, dan meminta wasit mengesahkan gol Frank Lampard, saat Jerman berhadapan dengan Inggris di Piala Dunia 2010. Walaupun kita semua yakin jika Neuer pasti melihat bola tendangan Lampard sudah melewati garis gawang Jerman.

Pada pertandingan kemarin, tidak ada satu pun pemain atau pengurus Persib yang melakukan protes kepada pemain Persija, dan meminta pemain Persija membujuk wasit untuk mengubah keputusannya. Pasalnya, ketika mereka berada di posisi sebaliknya, maka mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Lagipula bagaimana cara seorang pemain menghentikan pertandingan dalam situasi seperti saat itu, sedang wasit memberikan keputusan “play on”. Apakah dengan memegang bola? Hal tersebut tentu akan berakibat pinalti. Apakah dengan meminta time out? saya tidak yakin peraturan itu ada dalam sepak bola. Atau, harus dengan memasukkan bola ke gawang sendiri? alih-alih dianggap fair play seorang pemain malah dapat dianggap mendapatkan suap, atau melakukan pengaturan skor.

Sekali lagi, tolong tanyakan kepada lubuk hati Anda yang paling dalam, apakah kira-kira Anda dapat menerima dan memahami, jika dalam situasi seperti kemarin pemain Persib melakukan tindakan seperti yang saya sebutkan di atas? Apakah Anda dapat memaafkan pemain tersebut?

Jika ada pesepak bola dalam hitungan sepersekian detik, serta dalam sebuah pertandingan dengan tensi yang sedemikian tinggi berani dan berbesar hati untuk melakukan hal tersebut, rasanya pemain tersebut wajib mendapatkan Fair Play Award dari FIFA. Saya curiga jika pemain tersebut menyembunyikan sayap di punggungnya, and the last time I cecked unfortunately I am still human.

Pada akhirnya, cara pandang pelaku sepak bola dan penikmat sepak bola memang selalu berbeda. Pelaku melihat sepak bola berdasarkan pemahaman, sedang penikmat berdasarkan fanatisme. Pemahaman selalu membuat orang dapat mempertimbangkan sisi psikologis, sedang fanatisme acap kali hanya melihat dari sisi yang menguntungkan.

Setelah insiden tersebut Ezechiel dan Vujovic sempat bertanya kepada saya mengenai gol tersebut, dan saya pun menjawab jika gol tersebut sah.

Kejadian di babak pertama tersebut membuat Persib sempat tidak mau melanjutkan pertandingan. Wasit sempat menunggu beberapa saat di lorong menuju lapangan untuk menunggu pemain Persib keluar dari ruang ganti. Setelah mendapatkan peringatan oleh wasit akhirnya mereka bersedia melanjutkan pertandingan. Oleh karena itu kick off babak kedua harus tertunda beberapa menit.

Kartu Merah 
Secara pribadi saya sangat setuju dengan keputusan wasit memberi kartu merah Vladimir Vujovic. Kalimat “kurang pantas” Vlado kepada wasit setelah mendapatkan kartu kuning, memang layak diganjar kartu merah. Saya mendengar dengan jelas karena berada tidak jauh dari mereka. Bahkan saat meninggalkan lapangan menuju ruang ganti Vlado juga menunjukkan gerakan yang memprovokasi penonton. Sebagai pemain asing tentu kita berharap Vlado dapat memberikan contoh yang lebih baik.

Kartu merah yang diterima Vladimir Vujovic memicu offisial Persib untuk menarik para pemainnya keluar lapangan. Menurut pengelihatan saya, para pemain Persib sendiri sebenarnya enggan untuk meninggalkan lapangan. Beberapa pemain sempat ragu sebelum akhirnya dengan terpaksa berjalan menuju ke arah bangku cadangan pemain Persib.

Wasit sempat memberikan peringatan dan menanyakan kepada tim Persib, apakah masih ingin melanjutkan pertandingan atau tidak. Melihat tidak adanya niat dari tim Persib untuk melanjutkan pertandingan, akhirnya wasit Evans Shaun Robert asal Australia pun menghentikan pertandingan dan menganggap Persib melakukan “walk out”.

Ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai, raut wajah para pemain Persib seketika berubah. Mereka tidak menyangka jika wasit akan mengambil keputusan sebegitu berani. Saya sempat menghampiri para pemain Persib, sebuah kalimat keluar dari salah satu pemain, “Padahal, kita baru mau main nih Mas”. Tampak sekali Persib menyesal dan berharap mendapatkan waktu lebih lama dari wasit.

Di sini, saya tidak membahas mengenai tekanan penonton, karena memang sepanjang jalannya pertandingan tidak ada tekanan berarti dari penonton. Seluruh pemain dan ofisial Persib dapat berjalan meninggalkan lapangan menuju ruang ganti dengan nyaman. Berbeda ketika pertandingan digelar di Bandung. Terdengar teriakan dan caci maki, namun rasanya hal tersebut menjadi hal yang wajar dalam laga antara Persija vs Persib, layaknya partai-partai sebelumnya dimana pun partai tersebut dimainkan.

Kami tentu bersyukur dapat memenangkan pertadingan melawan musuh bebuyutan kami Persib Bandung. Namun jika ditanya apakah kami puas dengan kemenangan kami, maka jawaban kami atau setidaknya saya akan menjawab TIDAK. Masyarakat pencinta sepak bola Indonesia tentu layak mendapatkan suguhan pertandingan yang lebih baik dari partai sore itu.
Pelajaran paling berharga dari pertandingan kemarin adalah kita harus mulai belajar dewasa dan tidak cengeng dalam menyikapi segala keputusan wasit di atas lapangan. Saya pikir kita semua (termasuk Persib) paham betul mengenai kedudukan wasit dalam sebuah pertandingan.

Saya sangat memahami kekecewaan tim Persib sore itu, namun tidak melanjutkan pertandingan adalah sebuah keputusan emosional nan arogan yang tidak hanya melanggar regulasi, namun juga dapat berpotensi mengubur mimpi dari para pendukung setia dan fanatik Pangeran Biru.

Secara pribadi saya tidak berani membayangkan, jika kompetisi tertinggi di negeri ini digulirkan tanpa partisipasi Maung Bandung, sebuah klub besar yang memiliki sejarah dan tradisi panjang dalam sepak bola Indonesia. Sebuah konsekuensi yang mungkin tidak terpikirkan oleh siapapun yang memiliki ego terlalu tinggi, dan memerintahkan tim Persib untuk “walk out” pada pertandingan sore itu.

Untuk membangun sebuah tim yang kuat Anda membutuhkan “Bad Boy”, untuk memberikan karakter ke dalam tim. Namun di sisi lain anda juga harus memiliki “Smart Guy”, agar semuanya menjadi seimbang. Dan, tanpa mengurangi rasa hormat, saat ini Persib Bandung tidak memiliki keduanya. Selesai.*


Bambang Pamungkas
Penulis adalah pemain Persija Jakarta


 

n
Penulis
nana sumarna