TOP OPINI FOOTBALL
Referendum Katalan dan Reposisi FC Barcelona
05 Oktober 2017 04:25 WIB
berita
Dedhi Purnomo

Kata referendum pernah akrab di telinga bangsa Indonesia jelang memasuki abad ke-21. Tak lain adalah referendum Timor Timur yang pada 30 Agustus jadi titik kulminasinya. Sebagian besar rakyat di wilayah bekas jajahan Portugal itu menginginkan kemerdekaan. Lepaslah Timor Timur dan kini menjadi Republik Demokratik Timor Leste.
 
Kini, kata referendum jadi begitu akrab, tak hanya di telinga rakyat Spanyol, tapi juga di benak dan keseharian mereka. Rakyat Katalan menuntut kemerdekaannya melalui proses referendum yang digelar pada 1 Oktober. Tanggal itu pun juga sangat berarti bagi bangsa Indonesia yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hasil referendum Katalan pun sudah bisa ditebak. Sebanyak 91 persen pemilih menginginkan melepaskan diri dari pemerintahan Spanyol.

Katalan tidak hanya memiliki kekuatan politik yang besar, tapi juga pengaruh hebat di jagat sepak bola dunia. Di sana ada FC Barcelona, salah satu klub terbesar di dunia. Sebuah klub yang punya tradisi permainan yang sangat kuat. Punya ciri khas yang tak semua klub besar memilikinya. Mungkin, hanya Barca yang punya tanda khusus ini, Tiki-taka.

Barca sadar penuh di mana posisi mereka dan kepada siapa harus berpihak. Mendukung referendum bukanlah keputusan yang sulit bagi Barca. Meminta pengunduran laga pekan  ketujuh La Liga lawan Las Palmas jadi bentuk dukungan Barca terhadap referendum. LFP pun menolak. Alhasil, laga tetap dilaksanakan di Camp Nou dan tanpa penonton. Demikian pula sehari usai laga, pusat latihan Ciutat Esportiva Joan Gamper juga diliburkan.

Soal referendum, biarlah itu jadi hak politik rakyat Katalan. Namun, soal implikasinya kepada Barca, itu masalah lain. Ancaman paling mudah untuk menekan referendum adalah mengeluarkan Barca dari La Liga. Namun tampaknya, ancaman itu seperti tak ada apa-apanya dibanding kebesaran Barca. 

Sederet analisis dengan kesimpulan hampir mirip langsung mencuat. La Liga akan mengalami kerugian besar jika tak ada Barca di kompetisi. Tak hanya itu, industri global yang “hidup” dari Barca pun langsung gerah. Jelas, tak ada Barca di La Liga berarti tak ada duel klasik lawan seteru abadi, Real Madrid. 
 
Wacana lain yang muncul, Barca akan merapat di Liga Primer Inggris. Ini masih masuk akal. Namun, ada satu wacana yang langsung membuat pusing lebih banyak orang. Seorang pakar keuangan asal Inggris, Dr Daniel Plumley memberikan analisis. Kepergian Barca dari La Liga akan memicu terjadinya Liga Super Eropa. Sebuah liga yang diisi oleh klub-klub terbaik Eropa. 

Gagasan Liga Super Eropa sejatinya sudah bertahun-tahun lalu muncul. Pastinya, ditentang banyak pihak lantaran bisa mematikan liga-liga domestik, sekalipun itu Liga Primer yang terkenal sebagai kompetisi paling populer di dunia. Saat Barca, Paris Saint Germain, Bayern Muenchen, dan AC Milan sudah siap, tak sulit rasanya membujuk enam klub terbaik Inggris bergabung. Iming-imingnya mudah saja. Liga Super Eropa akan mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar ketimbang klub-klub besar itu berada di liga domestik masing-masing.

Dengan demikian, menahan Barca tetap di La Liga bakal jadi fokus perhatian banyak pihak di seantero Eropa. Situasi ini jadi menarik. Pemerintah Spanyol bersusah payah mempertahankan agar Katalan tak lepas, namun butuh tenaga yang jauh lebih besar lagi untuk menjaga Barca tetap di La Liga. Suka tidak suka, Presiden LFP Javier Tebas harus menerima kenyataan ini. Tebas adalah fan Madrid, tapi kehilangan Barca dan membuat LFP tampak buruk bukan catatan karier yang bagus baginya. 

Di permukaan, Barca terlihat seperti klub yang melebur dengan rakyat Katalan. Saat rakyat Katalan ingin merdeka, Barca pun seirama. Gerard Pique tampak begitu menikmati proses pemungutan suara. Sementara, Josep Guardiola telah memberikan suaranya lewat email. Sebelumnya, Guardiola pun ikut dalam aksi menuntut kemerdekaan Katalan.
 
Namun, bisa juga segala implikasi sikap Barca sudah diperhitungkan dengan sangat matang oleh petinggi klub. Pasti ada pula langkah strategis dengan memperhitungkan segala kemungkinan. Termasuk jika harus benar-benar hengkang dari La Liga, meski kemungkinan itu tampaknya ada di daftar terbawah.

Saat gonjang-ganjing referendum Katalan telah mereda, tak berlebihan jika penulis berkeyakinan bahwa Barca akan tetap berada di La Liga. Demi tidak mengubah tatanan yang sudah ada dan demi menjaga semua kepentingan. 

Selanjutnya, proses internal di LFP akan berjalan seiringan dengan proses pelepasan Katalan dari Spanyol. Pastinya, Barca bertahan di LFP akan jadi keputusan terbaik, tak hanya untuk La Liga, tapi juga untuk Eropa. Toh, klub yang menumpang berkompetisi di negara lain sudah ada sebelumnya. AS Monaco di Ligue 1 dan Swansea City di Liga Primer. Meski kondisi Barca agak berbeda lantaran proses pemisahan Katalan dari Spanyol dan ada lebih dari satu klub yang ikut berkompetisi. Selain Barca, ada pula Espanyol dan kini ditambah Girona.

Tak bisa dihindari, kehadiran Barca, Espanyol, dan Girona akan menghadirkan rasa masam bagi klub-klub yang berasal dari wilayah Spanyol yang berdaulat. Barca yg ikut "berpolitik" bisa memancing klub lain melakukan hal serupa. Las Palmas saat bertemu Barca, berniat memakai jersey dengan gambar bendera Spanyol di sisi kanan depan. Pesannya pun jelas yaitu mendukung penuh kedaulatan Spanyol. Sejengkel apa pun klub-klub La Liga terhadap Barca, mereka tak bisa menampik, saat bertemu Lionel Messi dan kawan-kawan, rating dan sharing televisi naik. Itu berarti uang, terlepas mereka babak belur oleh Messi.

Apalagi dengan munculnya referendum ini, situasi jadi termodifikasi. Barca akan hadir tak hanya sebagai kompetitor tapi sebagai tim separatis legal. Bukan pemberontak yang harus diperangi dengan senjata, tapi kehadirannya di depan mata mengundang geram. Siapa pun yang bertemu Barca punya motivasi berlebih untuk melumat tim dari Tanah Katalan itu.
Javier Tebas pasti dongkol melihat Barca masih berlaga di La Liga, tapi jika dia bisa berdamai dengan situasi itu, ada kredit khusus yang didapatkannya. Katalan lepas, namun La Liga akan menghadirkan laga-laga yang lebih sengit. Bukan semata-mata demi poin tapi untuk mempermalukan Barca dan teman-temannya.

Berdampakkah bagi Barca? Jelas. Madrid bakal sangat habis-habisan menjungkalkan rivalnya itu dari pemuncak klasemen. Dibantu pula oleh klub-klub dari wilayah Spanyol yang jengkel dengan referendum. Di masa depan, perjuangan Barca di La Liga tak sekadar mengejar prestasi, tapi jadi  upaya menjaga harga diri sebuah negara yang telah menentukan nasibnya untuk menjadi negara berdaulat. Selamat berjuang FC Barcelona.*


Dedhi Purnomo
Penulis adalah wartawan Harian Olahraga TopSkor

 

n
Penulis
nana sumarna