TOP OPINI FOOTBALL
The Good Fight ala Sepak Bola Indonesia
03 Oktober 2017 04:25 WIB
berita
Bagus Priambodo

Sudah pernahkah Anda menonton serial The Good Fight? Ditayangkan di salah satu saluran di televise berbayar. Sebuah serial drama bertema hukum dan pradilan di Amerika Serikat. Mengenai dua orang perempuan yang sedang memperjuangkan kembali kehidupan mereka. Ada sosok Diane Lockhart, seorang pengacara senior kelas wahid dan kaya raya. Dia sudah menyatakan pensiun untuk menikmati tabungan, tapi sesaat setelah dia mengundurkan diri dari firma hukum yang dibangunnya, semua berantakan. Tabungannya lenyap karena tertipu investasi dengan skema Ponzi, mirip dengan para calon jamaah First Travel.

Satu tokoh lagi adalah Maia Rindell, seorang pengacara muda yang memiliki prospek cerah. Dia adalah murid kesayangan Diane yang juga menjadi ibu baptisnya. Maia baru saja memulai kariernya tapi langsung terempas karena orang tuanya dituduh melakukan penipuan investasi dengan skema Ponzi.  

Diane dan Maia terlempar dari zona nyaman mereka, tapi kemudian memutuskan untuk tak tenggelam. Dengan kekuatan yang dimiliki, mereka pindah ke firma lain dan mulai mengembalikan nama baik dengan mulai mengerjakan kasus-kasus sosial.
Akhir dari kisah mereka memang belum selesai, namanya juga serial yang masih berjalan. Tapi pesannya jelas, mereka berjuang untuk hidup mereka, mengembalikan nama baik tak pernah usai, walau jalan terjal sekalipun. itulah yang disebut dengan The Good Fight

Lalu, apa yang terjadi dengan sepak bola negeri kita dalam sembilan bulan terakhir? Apa yang sudah dilakukan untuk mengembalikan nama baiknya? Di tingkat para pelaku lapangan hijau, sesungguhnya sudah terlihat yang dinamakan “Good Fight”. Tiga tim nasional menawarkan rasa baru, kendati hasil belum maksimal.
 
Tim Nasional U-22 coba memainkan gaya bermain berbeda di mana para pemain lebih berani mengontrol bola lebih lama. Luis Milla bahkan bisa melakukan hal tersebut sambil merotasi pemainnya. Absen sejumlah nama utama, tak membuat kualitas permainan turun drastis bahkan tak terlihat kemunduran. Sangat menjanjikan !

Sementara, timnas U-19 yang diasuh Indra Sjafri, kembali menggoda dengan permainan khasnya. Walau gagal mengulangi sejarah menjadi juara Piala AFF, saya menganggap ini merupakan momentum bagus. Bila Indra ingin membawa tim ini ke Piala Dunia U-20, maka pertempuran sesungguhnya memang berada di Piala Asia U-18 yang akan berlangsung di Jakarta tahun depan. 

Indra tinggal memanfaatkan waktu yang ada untuk mengasah pasukannya dengan berbagai program. Yang paling menarik dari timnas U-19 saat ini dibanding saat menjadi  juara AFF 2013 adalah semakin banyak sosok yang menonjol. Garuda Nusantara, demikian sebutannya, tak tergantung dengan satu sosok pemain walau Egy Maulana Vikry terlihat menonjol. Kualitas individu terlihat lebih merata sehingga rotasi tak merusak ritme permainan.

Hal serupa juga terjadi pada timnas U-16 yang dilatih Fakhri Husaini, mereka menunjukkan perlawanan terbaik mereka. Usai terpuruk di Piala AFF, Sutan Diego Zico dan kawan-kawan menjawab keraguan dengan tampil menggila di kualifikasi Piala Asia U-16. Fakhri dan tim pelatih berhasil mengeluarkan potensi terbaik anak asuhnya, sehingga bongkar pasang pemain tidak membuat drop kualitas tim.

Rasanya para pelatih di kelompok umur memang memiliki tugas utama untuk terus mencetak individu-individu berpotensi, dengan hadirnya banyak pemain bagus dan level kelompok umur maka kemungkinan prestasi tim terangkat juga semakin besar.

Ketiga timnas ini mencoba menawarkan warna baru. Mereka lebih berani mengontrol permainan, mengambil alih kendali, dan tak memiliki rasa takut. Walau pendekatan masing-masing sedikit berbeda, tapi karakter yang ditampilkan tetap sama. Ini hawa segar untuk sepak bola kita. Bisa dilihat dari respons publik usai timnas tampil. Jauh lebih banyak yang mendukung dan menyuarakan hal-hal positif. 

Bagaimana di tingkat kompetisi? Dengan segala keterbatasan setelah lama vakum, di lapangan tetap terjadi persaingan sengit nan mengejutkan. Papan atas Liga 1 yang dikuasai oleh tim tak terduga, Bhayangkara dan Bali United, seharusnya menjadi sinyal bagus bahwa persaingan memang merata. Sementara di Liga 2, dengan segala isu yang mengiringi tapi beberapa tim menunjukkan potensi terbaiknya kendati masih jauh dari harapan.

Pertanyaan besar memang masih ditujukan kepada para elite, apakah mereka benar-benar menunjukkan “Good Fight” untuk sepak bola negeri ini. PSSI perlahan berbenah, namun konsistensi dalam menjalankan aturan yang mereka buat sendiri masih dalam pertanyaan besar. Para klub juga perlu dipertanyakan keseriusannya untuk membangun atmosfer sepak bola yang lebih kondusif, aksi tak patut di lapangan yang melibatkan ofisial masih kerap terjadi hingga kini.

Bagaimana dengan pemerintah? Setali tiga uang. Turnamen-turnamen usia dini seolah menunjukkan mereka bekerja padahal tidak. Pemerintah seharusnya mendorong sekaligus membuat kebijakan agar seluruh pemangku kepentingan bisa memberikan sumbangsih yang maksimal. 

Saya menantikan adanya kerjasama antarkementerian yang membuat setiap daerah memiliki fasilitas sepak bola terpadu. Membuat para pesepak bola muda tidak meninggalkan dunia pendidikan. Tak lupa membuat para orangtua memiliki kesadaran untuk menjadikan anak mereka pesepak bola yang utuh. Pesepak bola yang tak hanya jago melewati sepuluh 10 orang di lapangan, namun juga pesepak bola yang memiliki kepribadian yang baik dan jadi anutan bagi sekelilingnya. Itulah The Good Fight ala sepak bola Indonesia.*Bagus Priambodo
 
 

n
Penulis
nana sumarna