TOP OPINI FOOTBALL
Indonesian Way dan Liga Topskor Edisi 8
28 September 2017 05:00 WIB
berita
Drs.Supartono, M.Pd.

Apa filosofi Indonesian Way yang akan dilansir PSSI pada Oktober 2017 mendatang?  Acaranya pun bertepatan dengan rangkaian putaran final National Youth Football Championship (NYFC) Pertamina Piala Suratin –15 dan U-17. Filosofi "Indonesia Way" karena diluncurkan oleh PSSI, maka kurang lebih bermakna cara Indonesia dalam bersepak bola. Atau, gaya bermain sepak bola Indonesia mulai tim usia dini, muda, hingga senior. Filosofi Indonesian Way diharapkan akan menjadi fondasi karakter cara bermain timnas sepak bola Indonesia demi merengkuh prestasi.

Sepanjang sejarah, sejak berdiri 19 April 1930 hingga kini, dari literasi yang ada, belum ada saya menemukan istilah “Indonesian Way”. Selama 87 tahun, timnas sepak bola Indonesia, tampil tanpa filosofi. Gonta-ganti pelatih timnas, dari pelatih lokal hingga asing, tetap tidak membawa dampak signifikan pada prestasi timnas yang berujung pada peringkat FIFA yang selalu terpuruk. Sebabnya, karena pembentukan timnas mulai dari sepakbola akar rumput memang belum memiliki filosofi mendasar dan searah setujuan.

Di bawah kepengurusan Edy Rahmayadi, Ketum PSSI ke-16, awalnya terkesan latah dan ikut terbawa arus pengurus PSSI sebelumnya. Edy pun menggaet pelatih asing demi mendongkrak prestaasi timnas yang terpuruk. Luis Milla Aspas, pria 50 tahun asal negara Spanyol pun didatangkan. Harapannya, Milla dapat membawa timnas Indoenesia keluar dari keterpurukan dengan mentransformasikan gaya tiki-taka ala Spanyol. Alih-alih dapat mengubah gaya permainan timnas menjadi ala Barcelona, Milla justru menemukan kasus yang terjadi pada timnas Indonesia. 

Beruntungnya lagi, PSSI yang juga menunjuk Danurwindo sebagai Direktur Teknik. Milla yang berbekal pengalaman menangani timnas Spanyol, memahami sepak bola modern eropa dan dunia, ternyata sangat cocok berduet dengan Danurwindo yang juga sangat memahami sepak bola nasional. Bukan hanya dari segi teknik, namun juga sangat mumpuni dalam konsep dan teori.

Kasus yang Milla temukan adalah ternyata, gaya sepak bola ala tiki-taka tidak dapat dipaksakan bagi timnas Indonesia. Mengapa? Pemain yang terpilih dalam timnas Indonesia faktanya adalah pemain yang kurang mampu bermain dalam sepak bola kolektif. Pemain Indonesia sangat individualis dan belum mampu membongkar pertahanan lawan dengan umpan bola-bola pendek. Karenanya, gaya bermain sepak bola timnas lebih baik memiliki filosofi bermain sendiri, yaitu cara bermain ala Indonesia.
 
Cara bermain ala Indonesia inilah yang akhirnya melahirkan pemikiran bahwa timnas Indonesia harus bermain dengan filosofi “Indonesian Way”. Untuk lahirnya timnas dengan fondasi dan karakter gaya bermain sepak bola cara Indonesia, tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan proses dan waktu yang tidak instan. Seluruh stakeholder pembinaan sepak bola di Indonesia wajib menjadi satu kesatuan. Mulai pembinaan dan pelatihan di akar rumput (usia dini dan usia muda), sekolah sepak bola, lalu di klub-klub di bawah PSSI hingga mengerucut ke timnas di berbagai kelompok umur hingga timnas senior.

Bagaimana Prosesnya?
PSSI telah banyak menerima masukan dari seluruh pelatih Liga 1 serta pelatih-pelatih timnas seluruh kelompok umur, mulai Luis Milla, Indra Sjafri, hingga Fakhri Husaini, dalam pertemuan teknis. Hasilnya, “Indonesian Way” dijelaskan adanya fase pembinaan dan pelatihan sepak bola nasional berdasarkan kelompok umur. Ada tiga fase untuk pembinaan dan pelatihan pemain usia dini dan muda.

Pertama, fase pengenalan. Untuk pembinaan dan pelatihan anak-anak usia 6 sampai 9 tahun. Kedua, fase pengembangan kemampuan di usia 10 sampai 13 tahun. Ketiga, fase permainan di  usia 14 sampai 17 tahun. Menjembatani agar teori dan praktik teraplikasi langsung, filosofi “Indonesian Way” sudah dipraktikkan pelaksanaannya dalam penyelenggaraan kursus kepelatihan lisensi D Nasional awal 2017. Hal ini dilakukan, sambil menunggu persetujuan Asian Football Confederation (AFC) untuk memasukkan “Indonesian Way” sebagai salah satu materi kepelatihan C AFC khusus di Indonesia.

Filosofi “Indonesian Way” bukan berarti menyeragamkan taktik di tiap sekolah sepak bola dan klub, melainkan akan menjadi ciri pemain Indonesia dalam timnas yang berpentas di kancah internasional. Ciri lain "Indonesian Way" adalah permainan proaktif. Gaya menyerang dengan penguasaan bola, konstruktif dari lini ke lini, dan berorientasi progresif ke depan untuk mencetak gol.
 
Selalu menguasai bola (possession-based). Membangun serangan secara sistematis dari lini ke lini. Progresif,  berarti mengutamakan operan ke depan dengan orientasi mencetak gol. Saat bertahan juga proaktif, situational pressing, dan zonal marking. Proaktif dalam bertahan berkaitan dengan proaktif saat menyerang, yaitu berusaha merebut bola secepat mungkin. 

Mengenai situational pressing, artinya ketika sedang tidak menguasai bola para pemain harus cerdas menentukan garis pertahanan menekan pemain lawan yang menguasai bola sesuai situasi. Sedangkan zonal marking menekankan pada setiap pemain untuk tidak terpaku pada penjagaan satu lawan satu, melainkan fokus pada lawan yang berada di area terdekat. 
Dalam "Indonesian Way" juga ada transisi negatif dan transisi positif. Saat transisi negatif (dari menyerang ke bertahan), saat kehilangan bola, langsung memberikan tekanan agresif pada pemain lawan. Saat transisi positif (dari bertahan ke menyerang), serangan balik cepat adalah prioritas utama.

Harus Diaplikasikan
Peluncuran kurikulum sepak bola nasional yang di dalamnya termaktub filosofi “Indonesian Way”, di bulan Oktober juga bertepatan dengan kick off Divisi Utama Liga TopSkor (LTS) U-13 edisi ke 8 musim 2017/18. Ini jadi wadah yang sangat tepat bagi para pelatih mengaplikasikan gaya/cara bermain “Indonesian Way”.

Sesuai ciri filosofi “Indonesian Way”, LTS U-13 tentunya akan menjadi sarana para pelatih mengaplikasikan fase kedua, yaitu pengembangan kemampuan pemain. Jadi, LTS telah memberikan sumbangsih sebagai wadah praktik langsung para pelatih menerapkan “Indonesian Way” di ajang sebenarnya.

Namun perlu diingat, ujung dari pembinaan sepak bola usia dini, usia muda adalah progres sesuai fase “Indonesian Way”, bukan berorientasi prestasi dan juara. Timnas U-15/16 dan U-18/19, serta U-22/23 tidak harus dibebani target juara, biarlah para pemain usia muda Indonesia ini berporses mengalir mengokohkan fondasi dan karakter “Indonesian Way”. 

Target merengkuh juara adalah ada di pundak timnas senior. Laga timnas seniorlah yang dapat mengubah kedudukan dan peringkat FIFA. Jadi, pilihlah pemain timnas senior yang terbaik, yang lulus standar teknik, intelektual, personalitas, dan kecepatan. Mengapa tidak, bila pemain timnas senior Indonesia berasal dari U-18/19 dan U-22/23 yang jelas terlebih dahulu sudah mengaplikasikan “Indonesian Way”, lulus mental dan menggaransi prestasi! Mereka kini yang lebih pantas membela Indonesia!***

 

Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna