LIGA CHAMPIONS
Casemiro, Raja Liga Champions dari Madrid
13 September 2017 10:16 WIB
berita

MADRID – Carlos Casemiro sempat harus melewati banyak rintangan untuk bisa menjadi starter tak tergantikan di Real Madrid. Selain karena permainannya tidak cocok dengan para pemain yang lebih mengedepankan taktik daripada teknik, ia pun lebih mengedepankan kelebihan fisik daripada estetika permainan.

Namun kini ia telah menjadi salah satu andalan hingga di kancah Eropa, sehingga di laga lawan APOEL Nicosia, Rabu (13/9) ia pun masih menjadi salah satu tulang punggung Madrid.           

Casemiro memiliki kelebihan dengan karakter sebagai pemain agresif, dan inilah yang akhirnya membuat dia menjadi pemain penting di Madrid. Kehadirannya telah mengantarkan Los Blancos meraih dua gelar Liga Champions secara beruntun, selain juga musim lalu membawa Madrid meraih gelar ganda—Liga Champions dan La Liga.           

Di benua Eropa, Casemiro telah menjadi penguasa sesungguhnya. Itulah julukan yang diberikan Marcelo Vieira, bek Madrid, dan juga rekan-rekan setimnya yang lain. “Sang Raja” akan menghadapi edisi keempat Liga Champions sejak menjuarainya dalam tiga musim. Rekam jejaknya dinilai sempurna bagi pesepak bola sehingga ia dinilai pantas menjadi salah satu pemain favorit bagi publik Bernabeu.           

Kesuksesan Casemiro tak hanya menjadi kebanggaan dirinya sendiri, namun ia juga menjadi tonggak sejarah bagi para pemain yang tak tergantikan di skuat asuhan Zinedine Zidane.

Sebelumnya, di era Carlo Ancelotti menjadi pelatih Madrid, ia hanya tampil dalam enam pertandingan di Liga Champions dan mencatat 144 menit tampil. Namun gelar Liga Champions saat itu tak lepas dari kontribusinya, terutama saat lawan Borussia Dortmund, pada 2013/14.           

Pada 2014/15, ia sempat dipinjamkan ke klub Portugal, FC Porto. Di sana ia berkembang dan berhasil kembali ke Bernabeu. Kehadirannya di starting 11 Zidane membuat Madrid yang sempat tersuruk kembali bangkit hingga meraih gelar Liga Champions di Milan dan Cardiff.           

Kariernya melejit hanya di era Zidane, lantaran saat Rafa Benitez masih menangani Los Blancos intervensi Florentino Perez (presiden Madrid) yang tak menyukai gelandang jangkar, membuat peluang tampilnya menyempit. Perez berubah pikiran setelah Benitez menerapkan double pivote dengan melibatkan Luka Modric dan Toni Kroos saat lawan Barcelona pada November 2015. Hasilnya, Madrid kalah 0-4 di Bernabeu saat Barca justru tampil tanpa Messi.           

Maka itu sejak Zidane datang, peran Casemiro lebih besar, lantaran ia mampu bermain lebih dalam dan makin menguatkan pertahanan, selain membantu Modric dan Kroos dapat bermain lebih ke depan. Di sisi lain, Casemiro pun memiliki kemampuan membantu serangan, hingga ia memiliki citra positif sebagai pemain yang dapat berperan sesuai misi permainan Zidane.* Zulfikar Akbar

news
Penulis
Zulfikar Akbar
Berdomisili di Jakarta Selatan. Di dapur redaksi TopSkor dipercayakan meracik berita-berita seputar Liga Spanyol dan lintas Eropa. Follow Twitter: @zoelfick