TOP OPINI OLIMPYC
Mengapa Indonesia Terpuruk pada SEA Games 2017?
05 September 2017 05:00 WIB
berita
Sumohadi Marsis

Sangat wajar kalau Presiden Joko Widodo ingin segera diadakan evaluasi besar-besaran atas kinerja kontingen Indonesia pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur. Di Istana Merdeka tiga hari sebelum kontingen berangkat, Jokowi menerima mereka dalam suasana penuh semangat keolahragaan, sampai ia menunjukkan kemampuannya bermain tenis meja. Di situlah ia memberi pesan tegas, jadilah juara umum!

Ternyata, setelah perhelatan dua tahunan yang diikuti sebelas negara Asia Tenggara itu berakhir 30 Agustus lalu, posisi kontingen Merah Putih hanya berada di peringkat kelima. Sangat jauh dari posisi juara umum yang direbut tuan rumah Malaysia berkat koleksi 145 medali emas.

Kontingen Indonsia yang terdiri atas 533 atket, kedua terbesar setelah tuan rumah, hanya mampu meraih 38 emas, jauh dari target 55 emas yang dipatok Satlak Prima, lembaga pemusatan latinan nasional bentukan Kemenpora yang dipimpin mantan KSAL, Achmad Soetjipto.

Bisa dibayangkan betapa kecewa dan kesal hati Jokowi menerima kenyataan pahit ini. Jauh panggang dari api. Memang, Jokowi sendiri berlebihan, dan para pembisik di sekililingnya tidak mengingatkan, bahwa berharap menjadi juara umum dalam kondisi seperti saat ini, sangat tidak mungkin.

Tapi, hanya menjangkau peringkat kelima dan dengan perolehan emas sangat minim, sungguh sulit diterima. Inilah raupan emas terburuk sejak menempati peringkat kelima pada SEA Games 2005 di Filipina (49 emas)  dan pada SEA Games 2015 di Singapura (47 emas).

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara,  apalagi dengan telah sepuluh kali menjadi juara umum dalam 20 kali penyelenggaraan SEA Games,  keterpurukan olahraga Indonesia saat ini tak bisa dibiarkan. Niat Jokowi membuat evaluasi menyeluruh karena itu sangat patut disambut.  

Letak Kesalahan
Dengan kartu Identitas berkode E-HB sebagai jurnalis SCI (Sport Channel Indonesia) saya bisa masuk ke semua arena pertandingam SEA Games 2017, dan itulah yang membuat saya agak tahu apa yang membuat penampilan atlet-atlet Indonesia tidak mampu menghasilkan prestasi maksimal.

Di Velodrom Nasional Malaysia di kota Nilai, Negeri Sembilan, misalnya, pembalap sepeda putri tuan rumah sangat dominan di semua nomor, termasuk  sprin 200 meter, tapi pembalap putri kita, Uyun Muzizah, masih mampu menembus semifinal dan akhirnya meraih perunggu.
 
Istimewanya lagi, usia Uyun, yang juga peraih emas SEA Games 2007, sudah 38 tahun. Denny Gumulya, Deputi Satlak Prima yang juga mantan Ketua Bidang Pembinaan PB ISSI,  menambah keistimewaan Uyun dengan mengatakan, “Persiapannya cuma satu bulan!”

Artinya, kalau persiapannya lebih lama, dan kalau usisnya masih lebih muda, mungkin sekali Uyun akan merebut medali emas kedua. Atau, kalau PB ISSI melakukan regenerasi dengan baik, akan muncul “Uyun-Uyun” yang lebih hebat yang bisa mengalahkan semua saingan, termasuk Fateha Mustapa, pembalap Malaysia yang memborong empat emas itu.

Di lapangan atletik Stadion Bukit Jalili, saya ikut mewawancarai Agus Prayogo, juara lari 10 kilometer. Sebelumnya ia  meraih perak pada nomor marathon akibat kecolongan pada dua kilometer terakhir.

Pada nomor lari 10 kilometer di Bukit Jalail itu ternyata Agus juga “kecolongan”, sehingga catatan waktunya lebih buruk satu menit di bawah catatan waktu terbaiknya. Saya kejar, mengapa? Agus menjawab, “Udara di sini lembab, mengganggu pernapasan”. 

Artinya, kalau Agus terus waspada pada nomor marathon hingga garis finis, dan kalau ia membuat persiapan khusus untuk mengatasi udara lembab Bukit Jalil, niscaya dua emas akan diborongnya. Malah bisa tiga emas kalau pada nomor lari 5 kilometer besoknya ia tidak kelelahan yang berakibat kekalahan.

Ketika mewawancarai Eki Febri Ekawati, peraih emas nomor tolak peluru putri, saya mendapat penjelasan yang mirip. Ia menjadi juara dengan tolakan 15,39 meter, padahal tolakan terbaiknya 15,54 meter. “Itu gara-gara persiapan  yang berantakan,” ujar Eki. 

Artinya, kalau kondisi Pelatnas tidak berantakan, alias Stadion Madya Senayan yang biasa menjadi lokasi pembinaan para atlet PB PASI tidak sedang dibongkar, persiapan Eki dan kawan-kawan menuju SEA Games 2017 bisa lebih baik, dan prestasi mereka pun bisa lebih baik. 

Salah kebijakan 
Saya juga meliput perjuangan para atlet kita dari cabang tenis, voli, senam, tenis meja, tinju, dan tentu saja sepak bola. Namun, dari yang sudah saya ceritakan di atas cukuplah untuk menyimpulkan bahwa memang ada yang salah dalam persiapan kita menuju SEA Games 2017.

Di sana ada porsi kesalahan induk organisasi, para atlet, dan pelatih,  dan pasti juga Satlak Prima sebagai penanggungjawab urusan teknik sampai strategi pemenangan. Termasuk pula Kemenpora selaku penanggungjawab tertinggi dan penyedia dana, infrastruktur, maupun logistik.

Di atas itu semua, mohon maaf, kesalahan ada pada kebijakan Menpora Imam Nahrawi dan tiga Menpora sebelumnya, sejak lahir dan diberlakukannya UU SKN (Undang-Undang tentang Sistem Keolahragaan Nasional) nomor 3/2005. 
 
Undang-undang tersebut telah memberi wewenang terlalu besar kepada pemerintah, dan membuat KONI, yang dulu mitra tunggalnya,  kehilangan jatidiri dan fungsinya. Sebagian fungsi KONI itu kemudian diberikan kepada Satlak Prima, lembaga yang dibentuk oleh pemerintah. Menpora Adhyaksa Dault, dan kemudian Andi Mallarageng, Roy Suryo dan Imam, tidak pernah berusaha merevisi UU SKN supaya lebih adil dan demokratis.

Terakhir, sepulang dari SEA Games 2015 dengan hanya mengantongi 47 emas dan menduduki peringkat kelima, Menpora Imam seharusnya segera mengumpulkan seluruh stakeholders  olahraga nasional, terutama KONI, KOI, Satlak Prima,  induk organisasi, dan kalau perlu juga dunia usaha dan potensial sponsor, untuk bilang, “Mari kita siapkan diri untuk meraih prestasi optimal pada SEA Games 2017!”

Sayang tidak. Ia malah beberapa kali dikutip media menganggap SEA Games tidak penting, kecuali untuk menggalang persahabatan. Karena itu, untuk SEA Games 2017 cukup diwakili sekitar 250 atlet saja. Keputusan menambah jumlah atlet menjadi 533 baru diberikan April 2017, terlalu singkat buat Satlak Prima atau siapa pun untuk membuat atlet benar-benar siap tempur.

Nasi sudah menjadi bubur, benang sudah terlanjut basah. Saya tidak bisa membayangkan apakah 38 emas SEA Games 2017 akan bisa menjadi 20 emas Asian Games 2018, kecuali kita tempuh jurus anomali, Crash Program.***

 

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 

n
Penulis
nana sumarna