TOP FEATURE OLIMPYC
Andrew Harris Menerobos Batasan
04 September 2017 04:22 WIB
berita
Andrew Harris - TopSkor/Istimewa

Setiap orang dilahirkan sebagai sosok yang istimewa. Hal itu dibuktikan oleh Andrew Harris, 32 tahun, yang mampu mendobrak batasan dan stigma yang diciptakan khalayak. Pada 18 Agustus lalu, dia sukses mengukir rekor sebagai penderita sindrom down pertama yang menaklukkan puncak Taman Nasional Grand Teton, Wyoming, Amerika Serikat.

Andrew adalah seorang pria yang sangat aktif. Sejak tinggal di Reno, Nevada, bersama sang adik Amy dan tunangannya Max Hammer, yang merupakan atlet ski profesional, dia menjalani beragam aktivitas fisik seperti lari, renang, mendaki, dan memanjat. 

Melihat semangat dan antusiasme yang diperlihatkan kakaknya, muncul ide gila dalam benak Amy, yakni memanjat puncak Grand Teton bersama-sama. Tahun pertama dihabiskan untuk meyakinkan Andrew yang akrab disapa Bob atau Ducky. Memberi pengertian soal misi ambisius itu. Setelah menempa mental, mereka memikirkan cara yang efektif untuk sampai ke atas. 
Program latihan untuk menguatkan fisik dan memantapkan kemampuan pun disusun dengan mengutamakan kenyamanan Andrew. Karena, sudah memiliki dasar kegiatan luar ruangan, persiapan tidak terlalu rumit. 

“Kami mendaki dan berlari seperti biasa. Kami menambah porsi latihan memanjat di pusat kebugaran khusus, lalu beberapa kali mendaki Donner Pass untuk mencoba short roping (dua orang atau lebih berjalan dengan terikat dalam satu tali, dimana satu sebagai pemandu), khususnya antara saya dan Andrew,” kata Max memaparkan. “Kami juga melatih rappelling (menuruni tebing dengan tali). Kami bertiga terus memperbaiki dinamika tim dan bergerak bersama-sama secara efisien. Andrew harus memanjat dengan gaya berbeda dan sangat tergantung pada arahan Amy.” 

Hari-H pun tiba, Max, Amy, Andrew dan tim kecil dari berbagai latar belakang pun memulai perjalanan pada pukul 05.30 pagi. Pendakian selama 12 jam (termasuk memanjat vertikal  2.133 meter) tersebut diwarnai dengan beragam kesulitan. Untung saja Amy pandai membangun suasana dengan candaan dan nyanyian sehingga kakaknya tidak tegang.
 
Di satu titik menjelang puncak, seorang pemanjat jatuh dan mengalami luka serius di kepala. Tim segera membelah diri, satu tim bertugas mengalihkan perhatian Andrew dan membimbingnya ke tujuan akhir. Sementara, grup yang satu membantu evakuasi korban hingga helikopter penyelamat datang.

Kerja keras itu terbayar ketika mereka menginjakkan kaki di puncak setinggi  4.200 meter. Lelah fisik dan mental yang dirasakan tim langsung menguap ketika menyaksikan binar kebahagiaan di wajah Andrew.

“Secara personal, mungkin ini satu hal paling membanggakan yang pernah saya lakukan. Di puncak, saya dan Amy berpikir, ‘Sulit dipercaya kami baru mewujudkan ide itu.’ Andrew tampak girang, tak bisa berhenti melihat sekeliling dengan takjub. Saya tak akan melupakan pendakian ini,” ujar Max yang pernah membintangi berbagai film tentang ski itu.

National Down Syndrome Society (NDSS), organisasi yang membantu orang dengan sindrom down, turut gembira dengan pencapaian tersebut. “Kami telah melakukan pengecekan data dan belum ada seorang pun dengan sindrom down yang terdokumentasi pernah mendaki ke Grand Teton. Bob telah menunjukkan kepada publik bahwa penderita sindrom down juga dapat melakukan apa yang orang lain kerjakan,” ujar Michelle Ray, Direktur Kesehatan Inklusif Nasional dan Program Olahraga di NDSS.*Xaveria Yunita


 

n
Penulis
nana sumarna