TOP OPINI FOOTBALL
Luis Milla Masih Layak Memimpin Evan Dimas dan Kawan-kawan
29 Agustus 2017 04:25 WIB
berita
Rizki MahengĀ 

Bagaimana nasib pelatih Luis Milla usai gagal mempersembahkan medali emas sepak bola SEA Games 2017? Pelatih asal Spanyol itu sedari awal ditargetkan untuk menuntaskan paceklik medali emas Indonesia di cabang sepak bola SEA Games yang terakhir diraih di edisi 1991 alias 26 tahun lalu. Sebelumnya, kegagalan Milla meloloskan Evan Dimas dan kawan-kawan ke Piala Asia U-23 masih bisa diterima mengingat babak kualifikasi itu adalah kesempatan kompetitif resmi pertama Milla bersama timnas U-22. Mengganti Milla di saat SEA Games sudah didepan mata juga dianggap terlalu berisiko.

Kini, dengan Milla gagal lagi pada kesempatan kompetitif kedua bernama SEA Games yang sebenarnya juga menjadi salah satu target utamanya, masihkah pelatih asal Spanyol ini layak dipertahankan di kursi timnas Indonesia? Menarik untuk diuraikan argumennya.

Milla sendiri memandang tim asuhannya sudah menampilkan permainan yang baik meski kalah dari Malaysia di semifinal. "Saya harap pendukung timnas melihat permainan sepak bola yang baik dalam pertandingan melawan Malaysia. Pemain berjuang meraih kemenangan dan saya harap semua menikmati permainan kami. Para pemain bermain bagus meski waktu istirahat sedikit " ujar Milla seperti dikutip dari laman resmi PSSI.

Kegagalan Milla tidak seharusnya menjadi dasar pemecatan pelatih yang terikat kontrak sampai akhir Desember 2018 itu. PSSI harus berpikir jernih ditengah kekecewaan yang melanda atas kegagalan Evan Dimas dan kawan-kawan. 

Sangat sedikit pelatih timnas di negara mana pun yang langsung memberikan trofi juara pada kesempatan pertama melatih negaranya. Vicente Del Bosque dan Marcelo Lippi adalah dua nama langka yang langsung membawa Spanyol dan Italia juara Piala Dunia 2010 dan 2006 pada kesempatan pertama.

Jejak rekam Milla melatih timnas Spanyol level U-19 dan U-21 memperlihatkan pria berumur 51 tahun ini layak untuk dipertahankan menangani Evan Dimas dan kawan-kawan untuk perhelatan berikutnya.

 Milla memang tidak langsung memberikan gelar juara pada kesempatan perdananya memegang tim Matador Muda. Saat kali pertama menangani timnas Spanyol, mantan pemain Real Madrid itu dipercaya menukangi tim U-19 Spanyol. 

Pada debut turnamen resmi Piala Eropa U-19 di Ukraina tahun 2009, Milla gagal meloloskan timnya dari fase grup. Kinerja Milla lantas membaik pada Piala Eropa U-19 setahun berikutnya di Prancis. Berbekal bintang macam Thiago Alcantara dan Sergio Canales, Milla membawa Matador U-19 melaju sampai partai final sebelum takluk dari ruan rumah Prancis. Pencapaian yang membuatnya dipercaya naik pangkat menangani tim Spanyol U-21. 

Piala Eropa U-21 tahun 2011 yang berlangsung di Denmark menjadi puncak kinerja Milla. Tim asuhannya yang saat itu diperkuat nama-nama beken seperti Juan Mata, Ander Herrera, David De Gea menjadi juara setelah menaklukkan Swiss 2-0.
Belajar dari rekam jejak tersebut, sesungguhnya Milla sedang dalam proses membentuk timnas Indonesia yang baik. Perlahan tapi pasti kerangka timnas masa depan Indonesia sudah mulai terbentuk ditangannya.
 
Hal ini seperti mengulangi apa yang dilakukannya pada tim Matador Muda. Milla terus membawa beberapa nama yang sama sejak menangani tim Spanyol U-19 sampai pada level U-21. Thiago Alcantara dan Martin Montoya adalah dua nama yang selalu masuk dalam skuad pilihan Milla. Pun demikian dengan David De Gea pada Piala Eropa U-19 tahun 2009 dan Piala Eropa U-21 tahun 2011. 

Milla juga menuntun Juan Mata, Javi Martinez, dan Ander Herrera memainkan penampilan terbaiknya saat Matador Muda mengangkat trofi juara Piala Eropa U 21 tahun 2011. Pemain yang di tahun-tahun berikutnya jadi tulang punggung timnas senior Spanyol.

Catatan-catatan ini seharusnya jadi pertimbangan PSSI sebelum memutuskan nasib Milla usai kegagalan di Sea Games. Mengganti pelatih tidak selalu menjadi jalan terbaik untuk memperbaiki kinerja tim. 

Faktanya, performa anak asuh Milla dalam dua kesempatan kompetitif di Kualifikasi Piala Asia U-23 dan Sea Games 2017 bisa dikatakan memberikan harapan. Sejak kalah telak 0-3 dari Malaysia pada laga perdana Kualifikasi Piala Asia U 23, performa Evan Dimas dan kawan-kawan terus membaik. Delapan laga sesudah kekalahan tersebut ditandai Garuda Muda dengan hasil 4 menang, 3 seri, dan 1 kalah. 

Dalam hasil-hasil tersebut anak asuh Luis Milla menyarangkan 13 gol dan hanya kemasukan 2 gol. Jelas ini adalah catatan statistik yang bagus. Secara permainan pun racikan Milla sudah semakin terlihat. Dengan tambahan waktu, Milla tinggal memperbaiki kualitas penyelesaian akhir dari lini serang timnas dan memastikan punggawa Merah Putih mampu mengontrol emosi pada tiap laga.

PSSI harus mulai belajar menerima bahwa kesuksesan selalu membutuhkan proses. Tengoklah perjalanan timnas Jerman bersama Joachim Loew. Mantan asisten Jurgen Klinsmann di Piala Dunia 2006 itu mengambil alih kursi kepelatihan Der Panser dan gagal juara di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, Piala Eropa 2012 namun tidak pernah diusik dengan isu pemecatan. 

Kinerja Philip Lahm dan kawan-kawan yang selalu menampilkan permainan memukau meski kemudian gagal juara cukup jadi alasan untuk mempertahankan Loew di kursi kepelatihan. Keputusan yang berbuah manis karena pada turnamen keempatnya di Piala Dunia 2014, Loew membawa Jerman juara Piala Dunia di Brazil. 

Nah PSSI, cerita timnas Jerman bersama Joachim Loew ini adalah sebuah benchmark. Mari teruskan proses membangun timnas hebat bersama Milla. Biarkan pria Spanyol ini bekerja sampai akhir kontraknya, lalu disanalah saat yang tepat untuk menilai hasil kinerjanya.***


Rizki Maheng 
Penulis adalah pemerhati sepak bola

n
Penulis
nana sumarna