TOP OPINI FOOTBALL
Emosi: Bumerang Timnas Menggapai Emas
26 Agustus 2017 05:00 WIB
berita
Drs.Supartono, M.Pd.

Akankah timnas bisa merengkuh emas SEA Games 2017 Malaysia? Timnas memang telah menggenggam tiket ke semifinal. Namun, sejatinya, sejak pertandingan awal, publik sepak bola nasional dibuat geram menyaksikan ulah para pemain muda Indonesia itu. Masih ada jiwa individualistis yang ingin mencetak gol untuk dirinya sendiri. Paling mencolok, para pemain timnas sangat lemah mengendalikan emosi.
 
Keunggulan teknik dan fisik yang dimiliki pemain timnas, seolah hilang karena para pemain timnas sangat lemah dalam intelgensi dan personalitas. Sepanjang menit pertandingan, rasanya tidak henti-hentinya kita menyaksikan para pemain muda kita melakukan kesalahan dan pelanggaran yang tidak perlu, memprotes yang tidak perlu, mudah dipancing emosinya oleh lawan, mudah terprovokasi, tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dan pertunjukkan di lapangan di tonton secara langsung oleh ratusan juta pasang mata di Indonesia yang rindu prestasi sepak bola. Sungguh, intelegensi dan personalitas pemain timnas memiriskan hati. Dari data statistik, ternyata timnas Indonesia adalah tim yang paling produktif dalam hal mencetak kartu kuning.
 
Evan Dimas sudah merasakan kehilangan 1 pertandingan akibat akumulasi kartu kuning. Rezaldi harus duduk manis di tribun penonton saat Indonesia jumpa Kamboja, juga karena akumulasi kartu kuning. Hanif malah harus menerima kartu merah. Lalu trio Hansamu, Hargianto, dan Manewar malah harus absen di semifinal kala menghadapi malaysia karena akumulasi kartu kuning. Pemain lain, macam Putu Gede, Febri, Andi Setyo, juga terancam tidak dapat bermain di final andai timnas menaklukan Malaysia lalu mereka juga mendapatkan kartu kuning susulan.

Kondisi emosional para pemain timnas sepanjang laga fase grup, memang telah menjadi bumerang bagi tim Garuda sendiri. Kehilangan bentuk permainan yang sebenarnya, kehilangan komposisi pemain terbaik, kehilangan kesempatan mencetak gol, kehilangan banyak waktu akibat perselisihan yang tidak perlu. Ironisnya pemain-pemain muda kita berulangkali melakukan kesalahan emosional yang sama. Seperti tidak ada bekas didikan tentang ilmu personalitas, ilmu mengendalikan emosi di dalam diri setiap pemain. Adakah mereka dan pelatih kita sadari bahwa itu adalah bagian dari intrik dan taktik lawan demi memenangkan pertandingan?

Apakah sepanjang pertandingan fase grup, penggawa timnas terlihat kalah fisik? Kelelahan? Nampaknya tidak. Seluruh pemain terlihat mampu bermain sepanjang dua babak,sembilan puluh menit, dengan fisik tetap prima. Dengan kondisi fisik yang tetap prima, secara logis dan matematis, maka para pemain kita tetap memiliki daya pemikiran yang terus seimbang karena asupan oksigen ke otak juga terjaga karena fisik tidak terkendala. Sehingga, otak seharusnya bisa menguasai penuh emosi. 

Tapi apa yang terjadi di lapangan, dari mulai pertandingan melawan Thailand, hingga pertandingan akhir melawan Kamboja. Hansamu dan kawan-kawan justru lebih sering mempertunjukkan sektor emosional. Sepanjang menonton pertandingan timnas Indonesia, secara sejarah, rasanya baru kali ini publik sepakbola nasional menonton timnas yang didambakan, unggul teknik dan fisik, namun tidak cerdas intelegensi dan tidak cerdas personaliti.

Dalam sepak bola modern, empat aspek standar pemain, saat berada di lapangan pertandingan memang tidak boleh dipisah-pisahkan. Empat aspek tersebut harus menyatu, karena empat aspek inilah yang saling dapat membantu dan mengantarkan tim mencapai kemenangan.

Aspek teknik, bagi seorang pemain sangat penting dalam rangka kebutuhan tim, hingga terbentuk tim yang solid. Aspek Intelegensi, menjadi sentral untuk mengantarkan tim yang solid karena pemain dan tim mumpuni dalam teknik, maka dengan intelegensi/otak yang cerdas, baik secara individu maupun kolektivitas tim, permainan dapat diatur karena adanya otak yang cerdas. Teknik pemain dan tim yang baik wajib didukung oleh aspek fisik, dan otak yang cerdas dapat mengatur irama permainan. 

Tim-tim yang memiliki pemain cerdas otak dan cerdas personaliti, bila kesulitan meladeni tim lawan yang unggul segalanya di semua lini, maka celah termudah untuk membuat tim yang unggul segalanya di semua lini, adalah dengan memancing emosinya. Thailand, Filipina, Timor Leste, Vietnam, dan Kamboja, adalah lawan-lawan Indonesia yang semuanya cerdas intelegensi dan cerdas personaliti. 

Karenanya, mereka semua telah tahu bahwa pemain-pemain Indonesia mudah sekali dipancing emosinya, maka setiap tim yang berlaga melawan Indonesia, pasti mengambil keuntungan dari kelamahan pemain timnas. Ujungnya sudah jelas, konsentrasi permainan terganggu. Lebih dari itu, pancingan-pancingan lawan yang menyulut emosi, tujuan akhirnya adalah agar pemain timnas mendapatkan sanksi, kartu. Sebenarnya, mustahil para pemain kita tidak menyadari strategi dan intrik lawan yang seperti itu, tapi mengapa tetap dapat terpancing?

Beruntungnya, Thailand  mampu membalikkan keadaan di laga akhir. Andai Thailand tidak mampu mengalahkan Vietnam, dan bermain imbang, atau justru sebaliknya Vietnam yang menyingkirkan Thailand, maka sudah barang tentu Indonesia terdelet masuk semifinal.

Menata Diri
Partai semifinal segera bergulir, Malaysia yang sempat mengangkangi Indonesia di Pra Piala Asia, tentu semakin lengkap memahami karakteristik tim Indonesia. Bisa jadi, sektor emosi pemain timnas juga akan menjadi lahan garapan pemain-pemain Malaysia demi menyingkirkan Indonesia.
 
Wahai penggawa Garuda! Bila Indonesia ingin masuk final, sadarilah bahwa faktor emosi adalah bumerang yang sengaja diciptakan lawan. Bermain dengan ego dan individualistis ingin mencetak gol, adalah bumerang dari dalam. Berikutnya, kerja apik Luis Milla di sepanjang laga dalam meracik pemain, semoga terus berlanjut membawa berkah timnas meski harus kehilangan Hansamu, Hargianto, dan Manewar. 
 
Dan akhirnya, marilah semua menata diri untuk sepakbola Indonesia. Sambil mendoa agar timnas U-22 dapat menyingkirkan Malaysia lalu masuk final dan juara, maka catatan tentang intelegensi dan personaliti yang telah menyelimuti Evan Dimas dan kawan-kawan, menjadi perhatian penting untuk timnas U-16 dan U-19 yang segera berlaga. Lalu, untuk seluruh pembina sepakbola usia dini dan muda, perhatikanlah aspek intelegensi dan personaliti pemain ini sejak dini, maka saat mereka berada di timnas kelak akan terbiasa dan membudaya menjadi pemain yang memiliki empat standar pemain lengkap. Ayo timnas U-22, gasak Malaysia! Pasti bisa! Amin.***

Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna