TOP OPINI FOOTBALL
Lain Jokowi, Beda Pula Nahrawi
18 Agustus 2017 04:25 WIB
berita
Sumohadi Marsis

KETIKA menerima dan melapas kontingen Indonesia ke SEA Games 2017 di Istana Merdeka, Senin, 7 Agustus lalu, Presiden Joko Widodo memberikan isyarat yang sangat jelas, jadilah juara umum!

“Berapa kali sudah kita menjadi juara umum?” tanya Jokowi kepada para atlet dan ofisial beratribut merah putih yang hadir pada acara itu. Setelah dijawab “Sepuluh kali…!” ia segera menyambung, “Kalau menjadi sebelas ‘kan lebih baik?”.
Dalam sejarah SEA Games yang dimulai sejak 1977 di Kuala Lumpur, para atlet terbaik Indonesia memang sudah mampu merebut 10 kali posisi juara umum. Kedudukan puncak itu direbut tidak hanya ketika empat kali menjadi tuan rumah, tapi juga saat enam kali sebagai kontingen petandang.

Jadi cukup masuk akal kalau pada edisi penyelenggaraan SEA Games ke-20 tahun ini (tidak termasuk sembilan kali penyelenggaraan ketika masih bernama SEAP Games di mana Indonesia belum ikut)) kontingen Merah Putih selayaknya menebar tekad untuk kembali merebut podium tertinggi. 

Menurut Jokowi, hasil perjuangan kontingen Indonesia pada pekan olahraga Asia Tenggara nanti juga harus optimal, sehingga bisa menjadi Sumber inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia. Harus bisa menunjukkan bahwa Indonesia bangsa yang tangguh.

“Tunjukkan kepada dunia bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tangguh, bangsa yang bisa bersaing, bangsa yang bermental pemenang, yang menjunjung tinggi fair play, menjunjung tinggi disiplin.” Begitu kurang lebih wejangan tertulis Jokowi yang dibacakannya sendiri.

Hitungan Realistis
Kontingen Indonesia yang akan berjuang pada SEA Games 2017 itu terdiri atas 533 atlet dan 225 ofisial dari 34 cabang olahraga. Mereka dibiayai dengan dana APBN sebesar Rp 41 miliar lebih. Di samping itu terdapat 122 atlet yang berangkat atas biaya induk organisasinya sendiri. 
 
Para “atlet mandiri” itu akan bertarung dalam tiga cabang olahraga musim dingin yang memang tidak dibina langsung oleh induk organisasi anggota KONI dan KOI. Mereka juga tidak masuk dalam katagori cabor yang dibina Satlak Prima, satuan tugas bentukan pemerintah yang sejak 2010 mengendalikan pemusatan latihan nasional.
 
SEA Games 2017 baru akan dibuka resmi pada 19 Agustus dan berlangsung hingga 30 Agustus. Namun cabang olahraga sepak bola (yang usia pemainnya dibatasi maksimal 23 tahun) sudah dimulai pada 14 Agustus dengan partai  Malaysia vs Brunei Darussalam. Pada hari berikutnya, timnas PSSI U-22 yang mewakili Indonesia akan memulai penampilannya dengan menghadapi juara bertahan Thailand.

Mampukah timnas PSSI binaan pelatih Luis Milla asal Spanyol melewati ujian pertama melawan Thailand? Mampukah mereka kemudian maju ke final dan meraih kemenangan untuk membawa pulang medali emas ke Tanah Air?

Pertanyaan itu, dan sederet pertanyaan lain hingga seberapa banyak medali yang bisa direbut para atlet Indonesia nanti, sejak lama sudah menjadi percakapan ramai di tengah komunitas olahraga kita. Tidak satu pun jawabannya memberi sinyal yang optimistis, apalagi sampai menjadi juara umum.

Komandan Satlak Prima, Laksamana TNI-AL (Purn) Achmad Soetjipto, sudah cukup sering dikutip di berbagai media dengan pernyataannya bahwa pasukannya tidak ditargetkan untuk menjadi juara umum di Kuala Lumpur kali ini. Menurutnya, dengan perhitungan yang matang, rinci dan realistis, posisi yang bisa direbut kontingen Indonesia adalah peringkat ke-4 atau ke-5.

Dari statistik sederhana dalam  tiga SEA Games terakhir, grafik prestasi kontingen Indonesia memang terus menurun. Menjadi juara umum pada 2011 di kandang sendiri, posisi para atlet kita kemudian anjlok ke peringkat 4 pada 2013 di Myanmar, dan peringkat 5 pada 2015 di Singapura.

Kini, SEA Games 2017 tidak mempertandingkan 28 nomor di mana Indonesia sangat berpeluang menjadi juara, sehingga diperkirakan para atlet Indonesia nanti hanya akan mampu meraih maksimal 55 medali emas. “Jauh sekali dari 120 emas yang harus kita rebut untuk bisa menjadi juara umum.” Kata Asis Syamsuddin, komandan kontingen kali ini.

Persahabatan
Dengan demikian isyarat dan harapan Presiden Jokowi yang sebenarnya sangat baik karena optimistis, sangat berbeda, bahkan bertabrakan dengan perhitungan dan target Satlak Prima yang logis dan realistis itu. Dari peringkat 5 pada 2015, bagaimana mungkin menjadi peringkat satu di 2017?

Jarak dan masa pembinaan dua tahun tidak cukup untuk membuat lompatan begitu besar karena prestasi olahraga diyakini bukan produk instan. Kekecualiannya adalah kalau sebuah negara menjadi tuan rumah, sehingga jumlah dan jenis cabang serta nomor yang akan dipertandingkan bisa dirancang dan diatur demi keuntungan pihaknya. 

Hal itu dilakukan oleh semua negara, termasuk ketika Indonesia empat kali menjadi tuan rumah (1979, 1981, 1997, 2011), juga ketika Malaysia menjadi tuan rumah pada 1977, 1989, 2001, dan tahun 2017 sekarang ini. Sehingga empat cabang olahraga musim dingin pun dipaksakan masuk.

Itulah agaknya yang membuat pandangan dan kebijakan Menpora Imam Nahrawi sempat berbeda dibanding Presiden Jokowi. Bagi Nahrawi, SEA Games tidak begitu penting. Ia menganggap SEA Games hanya bernilai sebagai arena mempererat persahabatan di antara para negara peserta. Karena itu baginya 250 atlet sudah cukup untuk mewakili Indonesia ke SEA Games 2017 (TopSkor, 31 Des 2016).

Kini angka itu sudah berubah menjadi 533 dan tentunya Nahrawi tetap berada di belakang Jokowi. Tapi, minimal untuk Asian Games 2018, sebaiknya jangan ada perbedaan sikap di antara sesama pimpinan negara. Ingat slogan Asian Games, Ever Onward. Maju Terus! *** 

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 

n
Penulis
nana sumarna