TOP OPINI FOOTBALL
Sepak Bola Indonesia, Mengapa Tidak Berkaca?
1
04 Agustus 2017 05:00 WIB
Sepak Bola Indonesia, Mengapa Tidak Berkaca?
Sumohadi Marsis

Pada bulan Mei 1989 saya mengalami situasi “ngeri-ngeri sedap” di kawasan olahraga Wembley, London. Di lorong panjang bawah tanah dari stasiun kereta api menuju stadion, saya terdesak dan terhimpit di antara  ratusan suporter dari dua klub yang akan bertarung, Liverpool dan Everton. 

Siang itu adalah bagian dari Big Day buat sepak bola Inggris. Tradisi menutup musim kompetisi dengan menggelar partai final perebutan Piala FA akan berulang di stadion nasional yang megah dan dikeramatkan itu. Kali ini partai pemungkas itu menjadi lebih istimewa karena menampilkan dua klub sekota yang tak pernah akur. Dikenal dengan sebutan sohor Derby Merseyside.

Akan tetapi, seperti selama dalam kereta api, masing-masing kelompok suporter itu asyik sendiri. Mereka menyanyi, meletupkan yel-yel, atau sekadar berteriak-teriak, tapi tidak melakukan gerakan atau ucapan apa pun yang bisa memancing emosi orang lain. 

Hanya saya saja mungkin yang merasa sangat terganggu karena amat bising. Apalagi dalam posisi sangat tidak nyaman, terlempar ke sana ke mari di tengah kerumunan manusia dengan tubuh serba tinggi dan besar yang semuanya bergegas ingin secepatnya mencapai stadion.

Dugaan  saya, bahwa dalam situasi rawan seperti itu setiap saat  bisa terjadi bentrokan atau perkelahian di antara para superter. Ternyata, dugaan saya meleset. Mereka terus asyik sendiri, apalagi setelah kubah stadion Wembley mulai terlihat di ujung lorong. “Here we come, here we come…!”,  begitu kurang lebih ungkapan emosi kegembiraan mereka.

Bergairah dan gagah 
Empat tahun sebelumnya di stadion yang sama, ketika menyaksikan partai final Piala Liga antara Norwich City dan Sunderland, saya dituntun petugas menuju Press Box  di lantai teratas tribun. Kali ini tiket gratis yang diberikan kepada saya mengarah ke barisan kursi terbawah, sangat dekat dengan lapangan hijau.
 
Sudut pandangnya berbeda, sehingga kesan terhadap penyelenggaraan pertandingan di Wembley menjadi sempurna. Inilah gelaran pertunjukan sepak bola yang ideal. Tidak ada lagi acara desak mendesak ketika  penonton melewati pintu untuk kemudian menemukan tempat duduknya sesuai nomor dalam tiketnya. Seperti di bioskop.

Satu jam sebelum pertandingan dimulai, tidak ada lagi kursi yang kosong, Semua duduk manis, kecuali para suporter yang sengaja hadir untuk menyemarakkan suasana dengan alat perkusi atau suara lantangnya. Tidak ada juga orang lain yang terlihat lalu-lalang kecuali petugas keamanan. 

Menjelang kick off, semua penonton tampak begitu bergairah, dan para pemain pun tampak sangat gagah berdiri di posisi masing-masing, menantikan peluit pertama dari sang wasit. Figur penuh wibawa yang selama 90 menit akan menjadi polisi, jaksa, dan hakim sekaligus. Semua yang ada di atas lapangan pun patuh. Perkara tidak suka, itu hak masing-masing pemain. Pokoknya, semua perintah wasit dilaksanakan. 

Pertandingan pun berlangsung sesuai dengan statusnya sebagai pemuncak kompetisi. Semua pemain bergerak lincah, saling umpan, dan saling sergap dengan akurat, membuat bola jarang bergulir liar. Hasil akhirnya, seperti yang sudah kita ketahui, berkat penampilan lebih tajam dan efektif dari Ian Rush dan kawan-kawan, Liverpool menang dengan  tiga gol tanpa balas. 

Tak heran Wembley segera menjadi arena eforia bagi puluhan ribu suporter beratribut serba merah. Mereka melakukan apa saja untuk melampiaskan kegembiraannya. Tidak ada ejekan atau cibiran kepada suporter kubu lawan. Para pendukung Everton sendiri ikut bertepuk tangan untuk lawannya. “Kami dikalahkan tim yang lebih baik,” komentar mereka.

Persib vs Persija
Apa yang saya ungkapkan ini jelas bukan hal baru. Saya bahkan yakin cukup banyak di antara para suporter sepak bola kita sekarang yang bukan saja telah bolak balik mengunjungi Wembley, tapi juga stadion-stadion besar lainnya di Eropa. Kesan mereka pun mungkin tak jauh berbeda, “Enaknya nonton bola di sana..!”

Tapi, di negeri sendiri, mengapa kesan bagus itu tidak disosialisasikan kepada para penggila sepak bola lain? Mengapa kalau ia menjadi bagian atau malah pemimpin para suporter, tidak menularkan virus manis dan indah dari benua asal sepak bola itu kepada para anggotanya? Mengapa mereka tidak berkaca ke sana dan menerapkannya di sini?

Memang kondisi tertib dan damai di seputar stadion sepak bola di Eropa itu tercipta setelah jatuhnya sejumlah korban jiwa pada tragedi Heysel dan Hillsborough. Tapi, bukankah kepada kita juga sudah ditunjukkan banyaknya korban manusia dan harta benda. Sikap sportif dan bersahabat di sekitar arena pertandingan sepak bola juga sudah diperlihatkan. Betapa indahnya. Mengapa tak dicontoh.

Sepatutnya kita semua, para pencinta sepak bola sejati, yang berarti pencinta kehidupan jujur, adil dan jantan, berkaca kepada semua pengalaman buruk itu? Memetik pengalaman pahit dari ekses meluapnya emosi seperti kalau Persib dan Persija, atau Persebaya dan Arema, PSIM dan PSIS atau Persis, dan lain-lain yang disebut “musuh bebuyutan”,  bertarung?   
Loyalitas dan fanatisme terhadap klub atau tim yang kita dukung tetap harus dipupuk. Tapi jangan lupa untuk terus menggunakan akal sehat, karena olahraga seharusnya membuat kita makin dewasa dan bermartabat.*

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 

n
Penulis
nana sumarna