TOP OPINI FOOTBALL
Banyak yang Lebih Mahal, tapi Tak Sedahsyat CR7
01 Agustus 2017 05:00 WIB
berita
Fhilip Makati Sitepu

Delapan tahun berlalu, sejak Cristiano Ronaldo pergi meninggalkan Manchester United (MU) menuju Real Madrid. Kala itu, Juli 2009, transfer kepindahannya yang memakan biaya 94 juta Euro tercatat sebagai rekor termahal di dunia. Pengorbanan uang Rp 1,3 triliun yang digelontorkan Madrid untuk memboyong Ronaldo rasanya sepadan. Sebelumnya, pemain asal Portugal ini merupakan ikon “The Red Devils”. Pencapaiannya, secara kolektif maupun individual, selama enam tahun di MU mengagumkan.

Pada 2008, dia pun membantu MU memenangkan trofi Liga Champions kemudian Piala Dunia Klub. Tak mengherankan bila Ronaldo “diganjar” Ballon d’Or perdananya. Masih banyak torehan individu Ronaldo lainnya saat berseragam MU, yang belum saya sebutkan. Intinya, pemain 32 tahun ini merupakan sosok juara sejati dilengkapi kualitas mumpuni. Kehebatan CR7 sahih dan teruji kontinyuitasnya, bukan semata-mata satu atau dua musim!

Sekarang, lulusan akademi Sporting CP itu bukan lagi tercatat sebagai pemain termahal dunia. Sepanjang kurun delapan tahun terakhir, ada dua nama yang kepindahannya melampaui angka transfer Ronaldo. Mereka adalah Gareth Bale (100,8 juta Euro) dan Paul Pogba (105 juta Euro).

Kalau mengamati betapa liarnya pergolakan nilai jual seorang pemain bintang, tak menutup kans muncul transfer lain dengan banderol mencengangkan. Sejauh ini saja, ada empat pesepak bola yang dibanderol lebih tinggi dari Ronaldo. 

Andrea Belotti (Torino) dan Pierre Aubameyang (Borussia Dortmund) di kisaran 100 juta Euro. Lalu nama striker AS Monaco, Kylian Mbappe, yang ditaksir Madrid dan Manchester City seharga 180 juta Euro. Terakhir adalah penyerang FC Barcelona, Neymar, yang dilabeli buy out clause 222 juta Euro!

Pertanyaannya, adakah dari deretan pesepak bola tersebut yang lebih baik dari Ronaldo? Atau janganlah dulu dihadapkan kepada ukuran “lebih baik”, adakah yang sedahsyat CR7?

Jujur, dulu saya heran ketika tahu biaya transfer Bale dan Pogba melampaui transfer Ronaldo. Bagaimana bisa, pemain “baru bersinar” setahun–dua tahun dibanderol lebih tinggi ketimbang CR7? Buat saya, mungkin hanya kepindahan Lionel Messi yang sejatinya pantas mematahkan rekor Ronaldo.

Kebetulan, Messi dan Ronaldo merupakan rival abadi, yang saling bergantian memenangkan kategori pesepak bola terbaik seantero kolong jagad. Keduanya masih di level puncak, setingkat di atas jajaran lain pemain top Eropa bahkan dunia. Bedanya, Messi belum “senekat” Ronaldo yang berani meninggalkan zona aman.

Bersama Madrid, CR7 memenangkan semua piala dari seluruh kompetisi yang diikuti. Koleksi FIFA Ballon d’Or bertambah, lalu CR7 turut mematahkan rekor statistik individu sejumlah legenda Madrid. Kini, bukanlah hal yang berlebihan bila menganggap Ronaldo sebagai ikon “Los Blancos”. 

Sensasi Sesaat!
Berbeda dibandingkan CR7, “harga selangit” yang disematkan kepada segelintir pesepak bola akhirnya cuma jadi sensasi temporer. Sesaat menyita perhatian, namun kemudian gagal memenuhi ekspektasi. Seolah pemain tersebut tak mampu mempertanggung-jawabkan banderol mahalnya tersebut. 

Lihat saja nasib Bale di Madrid atau Pogba bersama MU, elegi! Nama pertama memang mempersembahkan gelar Liga Champions dan Piala Raja pada musim debutnya. Tapi, Bale tidak pernah berdaya menggeser kebintangan Ronaldo serta ketergantungan “Los Blancos” terhadap CR7.

Dalam beberapa kesempatan, Bale pun mengakui kalau koleganya itu adalah bos di tim. Mirisnya, belakangan keberadaan penyerang sayap asal Wales dalam skuat utama Madrid juga tak menentu. Musim lalu, Bale hanya tampil 27 kali (semua ajang) kalah bersaing dari penggawa debutan, Marco Asensio (38).
 
Baru empat tahun di Madrid, nasib Bale gamang dan beberapa kali diisukan masuk daftar jual. Sementara selama delapan tahun ini, Ronaldo selalu langganan starter dan masih bertakhta sebagai “bos”. Jadi, apakah level maupun kualitas Bale mengimbangi kedahsyatan CR7?

Tak mau kalah dari Bale, sepak terjang dan kontribusi Pogba bahkan lebih menyedihkan. Pemain asal Prancis tersebut memang rutin tampil di lapangan, sebatas melengkapi starting line-up. Mengumpulkan total 51 penampilan di seluruh kompetisi, Pogba mencetak sembilan gol (kalah dibandingkan 10 koleksi kartu kuningnya).

Jadi seperti itukah, kelas dari seorang pesepakbola dengan banderol Rp 1,5 triliun? Orang lain mungkin memberi pemakluman, lantaran Pogba baru mengarungi tahun perdana usai mudik ke MU. Tapi saya ingin sampaikan, Ronaldo menyelesaikan debutnya di Madrid dengan 33 gol (35 laga di semua ajang)! 

Menunggu Neymar
Bukan cuma menimpa Bale maupun Pogba, “banderol selangit” tak sesuai realita terindikasi bakal muncul lagi. Hal itu bila ada klub di Eropa sana, yang mewujudkan transfer salah seorang dari Belotti, Aubameyang, Mbappe, atau Neymar! Perlukah mengeluarkan ratusan juta Euro untuk melabuhkan Belotti atau Mbappe, yang baru semusim tampil memesona?
Atau ratusan juta Euro lainnya untuk seorang Aubameyang, yang belum “menyulap” Dortmund jadi sesuatu. Bahkan demi Neymar sekalipun, yang saya anggap masih di bawah bayang-bayang Ronaldo dan Messi. Sepak bola modern memang telah menjelma menjadi sebuah industri, sarat kepentingan kapitalisme.

Mungkin, jajaran direksi sebuah klub masih memerlukan sosok-sosok seperti Adriano Galliani atau Silvio Berlusconi. Kedua orang tersebut terkenal penuh pertimbangan, cenderung sangat irit, dalam melayangkan proposal tawaran. Di sisi lain, sikap semacam itu berguna untuk mengendalikan harga transfer tak membubung tinggi.
 
Ratusan juta Euro cuma dipakai mendatangkan salah seorang dari Belotti, Mbappe, Aubameyang, atau Neymar? Lebih baik diinvestasikan membeli beberapa nama lain yang minim jadi bahan perbincangan, tapi kualitasnya tak kalah bagus. Kubu Paris Saint-Germain (PSG) mestinya sadar akan kemungkinan ini. 

Sebelum memenuhi biaya klausul pelepasan Neymar, pertimbangkan ulang feedback yang bakal dihadirkan striker Barcelona tersebut. Manajemen PSG mesti berpikir cerdas, karena mengandalkan Neymar hanya demi hegemoni lokal sangatlah tak sepadan. Berapa banyak pundi-pundi hadiah uang yang tersedia dari seluruh kejuaraan di Prancis?
Mungkin, PSG tak terlalu mengincar keuntungan materi. Namun, seberapa berpengaruhnya berjaya di negeri sendiri dalam melebarkan brand klub ke kancah internasional? Jika harus menggelontorkan 222 juta Euro, sewajarnya “Les Parisiens” memaksa Neymar membimbing mereka ke trofi Liga Champions. 

Saya pribadi meragukan striker asal Brasil ini, seorang diri bakal membawa PSG berjaya di Eropa. Gerard Pique sudah menyindir secara blak-blakan, kalau mau uang silakan pergi ke Paris. Bila Neymar masih mau memenangkan supremasi trofi-trofi bergengsi, bertahanlah di Barcelona! Lagipula, hanya cara tersebut yang membuat pemain berusia 25 tahun ini bisa mengejar level Ronaldo maupun Messi. 
 
“Pemain hebat selalu membuntuti pemain hebat lainnya. Mereka ingin berada di level paling atas. Anda pantang beristirahat, atau para pesepak bola hebat itu akan melewati Anda,” kata Ronaldo kepada ESPN.
 
Mungkin itu sebabnya, CR7 selalu ogah menanggapi ajakan gabung PSG. Datang ke Prancis dianggapnya sebagai “istirahat” sejenak dari peta persaingan sepak bola Eropa papan atas. Jadi Neymar, masih berminatkah Anda pindah ke Paris Saint-Germain?***

 

Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

n
Penulis
nana sumarna