TOP OPINI FOOTBALL
Menakar Status Grup Neraka di Sepak Bola SEA GAMES 2017
31 Juli 2017 05:00 WIB
berita
Rizki Maheng

Jangan terlalu berharap banyak kepada timnas Indonesia kecuali hati Anda terbuat dari batu yang keras. Ini adalah pernyataan setengah putus asa dari pencinta tim Merah Putih yang terus berharap akan kejayaan sepak bola namun tidak kunjung tercipta. Tiap kali skuat Garuda memberikan harapan tiap kali itu pula hati kita dibuat hancur melihat harapan musnah di depan mata. Begitu terus dari masa ke masa. Dari generasi ke generasi. Penantian yang tak kunjung datang.

Anda tentu masih ingat dengan euforia keberhasilan Evan Dimas dan kawan-kawan menjuarai Piala AFF U-19 yang terus dilanjutkan dengan menghajar Korea Selatan dalam perjalanan menuju Piala Asia U-19. Ketika itu harapan begitu besar tumbuh kepada anak asuh Indra Sjafri sampai-sampai media begitu lebay menyamakan permainan timnas U-19 dengan gaya bermain tiki-taka Barcelona arahan Josep Guardiola. 

Harapan lalu musnah ketika anak-anak muda itu hancur berantakan kala melakoni Piala Asia U-19. Target lolos ke Piala Dunia U-20 lewat jalur semifinal gagal dipenuhi. Hal yang sama pun kembali terjadi, kegagalan.

Soal harapan tumbuh pada timnas lalu musnah terulang lagi pada final Piala AFF 2016. Setelah meraih kemenangan yang jarang terjadi atas Thailand di Stadion Pakansari, Boaz Salossa dan kawan-kawan berangkat ke Thailand diiringi optimistis bahwa inilah saatnya tim Merah Putih menjadi penguasa Asia Tenggara. Kita kemudian menjadi saksi harapan yang membubung tinggi jatuh menyakitkan saat melihat pasukan Kiatisuk Senamuang menamatkan mimpi skuat Garuda yang masih dipimpin oleh Alfred Riedl.

Sekian kali kita mendapati episode harapan tumbuh lalu kemudian berakhir tragis di episode berikutnya. Hal ini sudah membuat banyak orang takut untuk berharap terlalu banyak akan performa tim Merah Putih. Pun demikian yang terjadi ketika undian sepak bola SEA Games 2017 diumumkan.

Timnas Indonesia asuhan Luis Milla berada di grup B bersama juara bertahan Thailand, Vietnam, Kamboja, Timor Leste, dan Filipina. Banyak yang kemudian menyebut Indonesia berada di grup neraka ketika membandingkan komposisi grup A yang berisikan tuan rumah Malaysia, Singapura, Myanmar, Laos, Brunei. Benarkah Indonesia berada di grup neraka? Apakah ini realita atau sekadar media yang lagi-lagi lebay.

Merujuk pada rangking FIFA per 6 Juli menampilkan peringkat dunia tim-tim yang akan berlaga dalam SEA Games 2017 sebagai berikut: 126 Filipina, 131 Thailand, 133 Vietnam, 157 Myanmar, 167 Malaysia, 169 Singapura, 171 Laos, 173 Kamboja, 175 Indonesia, 188 Brunei, dan 196 Timor Leste.

Dari data ini terlihat Indonesia bergabung dengan empat tim yang peringkatnya di atas tim Merah Putih yaitu Filipina, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Meski sejatinya hanya Thailand dan Vietnam yang patut diwaspadai. Thailand adalah peraih medali emas SEA Games dua periode berturut-turut. Salah satunya dengan menaklukkan Indonesia di final SEA Games 2013. Sedangkan Vietnam adalah tim yang meghajar Indonesia 5-0 pada perebutan posisi 3 di SEA Games 2015. Indonesia berada di grup neraka? Jika acuannya peringkat FIFA dan performa di SEA Games terakhir, maka Indonesia memang berada di grup yang berat.

Peluang Sama
Data performa FIFA dan performa di SEA Games terakhir juga menegaskan bahwa grup neraka bukan hanya milik Indonesia tetapi juga dialami Malaysia sebagai tuan rumah. Di Grup A Harimau Malaya mendapati Myanmar sebagai tim yang peringkat FIFA-nya lebih baik dan sisanya terdapat Singapura, Laos, dan Brunei.

Adalah Myanmar yang menjadi rival utama Malaysia di grup ini berkat komposisi skuat yang sempat tampil di Piala Dunia U-20. Status Myanmar sebagai runner-up di sepak bola SEA Games 2015 makin menegaskan bahwa Malaysia tidak bisa bersantai ria kala melawan tim ini. Lengah bisa berakibat fatal.

Lawan berat berikutnya bagi tuan rumah Malaysia adalah Singapura. Posisi Malaysia dan Singapura pada peringkat FIFA hanya berjarak dua tingkat dan selisih poinnya pun tipis sekali yaitu 119 milik Malaysia dan 118 untuk Singapura. Ini memberikan gambaran bahwa laga ketat bakal tersaji saat Malaysia bersua Singapura, negara yang timnas seniornya tergolong dalam kategori penguasa di Piala AFF bersama Thailand. 

Meski tim muda Singapura tidak sehebat tim seniornya, namun Singapura Muda tentu ingin mengikuti kehebatan seniornya dengan memberikan perlawanan sengit. Di sini bisa dilihat, apakah regenerasi di Singapura berjalan dengan baik atau tidak. Sedangkan perlawanan sengit tampaknya sesuatu yang sulit diharapkan datang dari Laos dan Brunei.

Grup B boleh saja terlihat sebagai neraka bagi Indonesia tetapi Grup A juga bukan grup yang ringan-ringan amat. Cabang sepak bola SEA Games akan berlangsung pada 14-29 Agustus 2017 atau sekitar dua pekan untuk mendapatkan peraih medali emas di partai final nanti. Dalam waktu sepanjang itu semua kemungkinan bisa terjadi.

Jika tidak berhati-hati, Malaysia bisa tergelincir saat beradu dengan Myanmar atau Singapura. Jadi, jangan lebay meratapi Indonesia berada di grup neraka karena semua grup punya tantangan tersendiri. Indonesia memang berada di grup yang berat tapi bukankah untuk menjadi juara harus berani dan mampu menghadapi tantangan seberat apapun itu? Lebih penting lagi, salah satu indikasi dalam kehidupan adalah harapan. Selama masih ada harapan, maka kehidupan pun berdenyut. Selama ada harapan yang mengiringi pasukan Garuda, peluang sekecil apa pun harus tetap diperjuangkan.***


Rizki Maheng 
Penulis adalah pemerhati sepak bola

n
Penulis
nana sumarna