TOP OPINI FOOTBALL
Keseimbangan Dukungan dan Publikasi, Potret Sepak Bola Nasional
0
29 Juli 2017 05:00 WIB
Keseimbangan Dukungan dan Publikasi, Potret Sepak Bola Nasional

Ingar bingar Piala AFF U-16, Pra Piala Asia U-22, Liga 1, Liga 2, benar-benar telah menyita perhatian. Suka cita pun terjadi atas bergulirnya Liga 1 dan Liga 2 yang penuh dukungan, militansi, dan publikasi. Duka cita atas kegagalan timnas U-16 di Piala AFF U-16 disusul terjerambabnya penggawa U-16 di Pra Piala Asia, juga tidak kalah pamor. Namun, kita semua memahami sebab-musabab mengapa timnas belum mampu mereguk prestasi. Era kepemimpinan organisasi PSSI di bawah kendali Edy Rahmayadi masih panjang. 

Seluruh elemen pecinta sepakbola tanah air dan para pelaku sepakbolanya harus segera bangkit. Move on! Penggawa timnas U-19 yang belum beraksi, semoga menjadikan kegagalan kakak dan adiknya sebagai pijakan berharga untuk mewujudkan trofi di Piala AFF U-19. Amin.

Di luar dukungan para sponsor dan media massa, suporter seluruh tim yang berlaga di kompetisi Liga 1 dan Liga 2 pun luar biasa menunjukkan militansi. Mendukung timnya, mencintai timnya baik pertandingan kandang dan tandang. Membeli jersey, flyer, dan atribut-atribut yang menggambarkan bagaimana hubungan suporter dan tim yang dibela saling merasa memiliki. Tidak berhenti di kisah antara tim dan suporter sejati, antartim suporter pendukung pun kini begitu saling menghargai. Meski berada dalam satu stadion yang sama, namun berbeda dalam dukungan, namun suasana kekeluargaan dan persatuan tetap terjalin. 

Kini, publik sepak bola nasional mempertanyakan mengapa saat para pejuang sepak bola yang membela nama bangsa dan negara dengan Bendera Merah Putih di dada justru tidak dihargai oleh PSSI  sendiri! Ke mana Kemenpora dan ke mana PT LIB? Mengapa saat timnas berlaga, justru laga-laga Liga 1 dan Liga 2 justru tetap tayang live di televisi nasional dengan waktu yang bersamaan. 

Bukankah pertandingan internasional AFC dan FIFA yang melibatkan timnas di seluruh negara sudah terjadwal dan terprogram dengan matang. Hingga tidak mungkin terjadinya bentrok dengan jadwal pertandingan liga atau pertandingan domestik lain di setiap negara. Bolehkah publik mengusir pengurus PSSI atau Kemenpora, atau PT LIB dari tanah air yang tidak menghargai pertandingan timnas membela Bendera Merah Putih di dada dengan tetap memaksakan ada pertandingan liga domestik bergulir dengan waktu bersamaan?

Seharusnya, bila ternyata PSSI dan PT LIB tak mengubah jadwal tanding saat waktunya bentrok dengan jadwal timnas bertanding, maka harus lahir inisiatif dari klub bersangkutan untuk mengubah jadwal tersebut.

Kini timnas sepakbola Indonesia terdiri dari U-16, U-19, U-22, senior dan tim sepakbola wanita. PSSI harus menjadi teladan utama bagaimana rakyat dan bangsa ini mendukung, merasa memiliki dengan penuh militansi terhadap timnas. Bukannya terbalik, justru ketika timnas bertanding, PSSI memberi opsi agar publik sepak bola nasional dapat memilih menonton saluran live timnas atau pertandingan Liga di televisi lain dengan waktu bersamaan! Ironis, miris!

Porsi Liga 3 
Di luar pertandingan Liga yang terus bergulir dengan waktu bersamaan timnas berlaga, PSSI juga kurang seimbang dalam mendukung dan mempublikasikan gelaran Liga 3. Faktanya, Liga 3 yang sudah bergulir sejak awal bulan April 2017, pemberitaaan dan publikasi di media adem ayem. Padahal, Liga 3 justru menyuguhkan pertandingan yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan Liga 1 dan 2. Dalam regulasi persyaratan pemain, tim Liga 3 wajib memainkan pemain kelahiran 1994 dan sesudahnya (U-23). Artinya, Liga 3 justru sangat menjanjikan terjadi tontonan menarik di setiap laga, karena setiap tim dihuni pemain muda.

Lebih dari itu, Liga 3 yang pesertanya berkali lipat dari Liga 1 dan 2, terbagi ke dalam 34 zona, memainkan kompetisi penuh, lalu ada 32 besar, 16 besar, 8 besar hingga final. Benar-benar kompetisi yang komplet, tapi rentan dengan berbagai situasi, karena melibatkan zona dan tim yang sangat banyak. 

Terlebih setiap zona jumlah tim juga tidak merata. Keseluruhan dari 34 zona itu, data peserta tim Liga 3 memang belum terkalkulasi secara akurat. Namun dari catatan yang ada, zona yang paling sedikit pesertanya adalah Bangka Belitung yang hanya dihuni 6 klub. Sementara zona yang cukup banyak dihuni peserta di antarnya adalah Jawa Timur 41 klub, dan Jawa Barat 48 klub. 

Dari regulasi yang ada, Liga 3 hanya akan meloloskan 3 tim promosi ke kasta di atasnya dan seluruh sisa tim Liga 3 lainnya di kompetisi 2018 akan turun menjadi peserta Liga 4. Perbedaan jumlah klub di setiap zona memang akan mempermudah bagi zona yang hanya dihuni sedikit klub. Namun membuat sulit zona yang dihuni banyak klub. Yang pasti jumlah klub akan sangat memengaruhi perjuangan keras tim bisa lolos dari zona agar masuk 32 besar. Perbedaan jumlah klub juga sangat signifikan terhadap waktu, jumlah pertandingan, dan biaya operasional bagi operator Asosiasi Provinsi (Asprov), juga bagi pengeluaran klub. 

Sayang, Liga 3 karena berstatus amatir kurang mendapat porsi dukungan. Media nasional pun juga sangat minim dalam hal memberitakan. Mengingat pada musim 2018, PSSI akan menjadikan kompetisi sepak bola nasional terdiri empat kasta, Liga 1, 2, 3, dan 4, maka sejak dini PSSI wajib sudah mengkalkulasi agar semua kasta tidak ada yang menjadi anak tiri. 

Jangan mentang-mentang Liga 1 dan 2 berstatus profesional, maka PSSI hanya menggembar-gemborkan Liga 1 dan 2 saja seperti di tahun ini. Pun PSSI juga harus membuat regulasi dan mengawasi, karena peninggalan rezim lama, begitu mudahnya klub mendaftar menjadi anggota PSSI dengan dengan persyaratan yang boleh dibilang sangat mudah dan ringan. Buntutnya, hanya perkumpulan klub biasapun kini sudah bertengger di Liga 3 di seantero negeri tanpa mewakili daerah/Askab/Askot.

Semoga PSSI menjadi anutan dan teladan bagi publik sepak bola nasional khususnya dan umumnya untuk bangsa dan negara Indonesia, tidak menduakan pertandingan timnas di event resmi internasional dengan pertandingan liga domestik yang disiarkan secara langsung di televisi nasional. Hormati Merah Putih di dada pemain yang berjuang untuk nama bangsa dan negara. 

Hentikan semua kegiatan sepakbola, saat timnas berlaga. Publikasikan kompetisi Liga 3 dengan porsi yang sebanding dengan gelaran Liga 1 dan 2. Yakin, dengan keseimbangan dukungan, rasa memiliki, dan publikasi merata, sepak bola nasional akan terus berjaya. Prestasi tidak harus dengan bukti menggenggam dan menggondol piala, namun melakukan keseimbangan dengan menjalankan program yang benar di relnya tanpa cela, itupun sudah berkategori jawara.
Kebangkitan sepakbola nasional adalah bukti dan prestasi sementara PSSI-nya Edy untuk rakyat dan negeri ini. Perolehan trofi akan melengkapi dengan pondasi rasa memiliki. Ayo buktikan U-16 dan U-19 tidak mengulang kegagalan.  PSSI, pasti kamu bisa!***

 

Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional
 

n
Penulis
nana sumarna