TOP INTERVIEW
Penampilan Persib Selama Putaran Pertama Sangat Monoton
24 Juli 2017 15:31 WIB
berita
Yudi Guntara/Foto Dani Wihara

BANDUNG - Persib Bandung gagal memenangi El-clasico Indonesia jilid pertama di GO-JEK Traveloka Liga 1. Persija Jakarta sukses membuat Pangeran Biru kehabisan ide untuk membongkar benteng pertahanannya. Dan harus puas mengakhiri laga tanpa kemenangan. Yang akhirnya menyulut kemarahan bobotoh.

Apa yang terjadi dengan Persib di laga klasik tersebut? Berikut obrolan TopSkor.id bareng legenda Persib Yudi Guntara.

Bentrok Persib vs Persija masih pantas disebut El-Clasico Indonesia?

Duel kedua tim masih sangat pantas disebut El-Clasico Indonesia. Karena kedua tim punya permainan yang cantik dan sejarah panjang di pentas sepak bola Indonesia. Semua pecandu sepak bola nasional pasti menunggu duel mereka.

Apakah yang ditunggu bola mania nasional terpenuhi?

Masih terpenuhi ketika dua tim masih bermain mormal. Apalagi ketika 30 menit pertama Persija menguasai permainan dan Ramdani Lestaluhu membuat gol balasan. Gol berkelas dari permainan yang cantik. Tapi setelah Persija main dengan 10 pemain, keindahan permainan mulai tergerus. Karena beda perimbangan kekuatan. Sejak itu Persija merubah pola menyerang cantiknya jadi pertahanan solid.

Di situ Anda mulai melihat Persib bakal gagal menangkan pertandingan?

Iya. Karena Persib tidak bisa manfaatkan kelebihan pemainnya. Terutama karena monotonnya permainan Persib akibat Maitimo yang diplot di depan bisa dimatikan.  Persib terpaksa main melebar dan melakukan bola-bola crossing yang mudah dipatahkan pemain Persija. Tambah lagi Andritani main bagus sekali di bawah mistar Persija.

Soal main melebar trus crossing kan ciri khas Persib selama ini?

Betul. Itu terjadi karena keterbatasan pemain. Tidak ada striker murni memaksa Persib main dari samping. Pola itu terus dipakai selama 16 laga. Dan sialnya sudah dibaca semua rivalnya. Persib pun akhirnya harus gigit jari.

Bagaimana dengan strategi ulur waktu Persija?

Sah saja. Itu bagian dari strategi. Apalagi mereka bermain dengan 10 pemain. Pilihan tepat ulur waktu. Justru pemain Persib yang salah. Mereka terpancing emosinya, terutama Vlado, sehingga permainannya jadi terganggu.

Solusi yang harus dibuat manajemen tim agar Persib kembali bangkit?

Yang pertama harus dilakukan segera siapkan striker baru. Saran saya datangkan dua striker asing dan lokal. Kenapa dua striker? Agar Persib punya cadangan pemain ketika striker asingnya absen karena terganjal hukuman kartu.

Bagaimana dengan posisi pelatih kepala?

Pertahankan Hertie Setyawan. Karena dia sudah lama bekerja dengan tim dan tahu jeroan Persib. Kalaupun pakai pelatih asing, toh dia akan menggunakan jasa Herrie untuk mengetahui timnya.

Kalau pelatih lokal, siapa yang pantas?

Yang pantas, sudah pasti harus punya pengalaman dan pernah bawa tim juara di kompetisi Indonesia. Karena Persib yang akan ditanganinya tim besar. Bukan tim ecek-ecek.

Bisa sebutkan nama?

Rahmad Darmawan pasti pantas. Dia sudah bawa Persipura dan Sriwijaya FC jadi juara. Yang lainnya, Herry Kiswanto. Memang dia belum pernah bawa tim juara. Tapi dia sangat berpengalaman dan tahu kultur sepak bola Bandung. Dia juga pernah jadi pemain Persib.

news
Penulis
Dani Wihara
tukang tulas tulis persib bandung