TOP OPINI FOOTBALL
Menyikapi Kegagalan dan Membangkitkan Semangat Timnas
0
21 Juli 2017 05:00 WIB
Menyikapi Kegagalan dan Membangkitkan Semangat Timnas
Drs.Supartono, M.Pd.

Dua dari tiga generasi timnas Garuda sudah unjuk gigi di ajang sebenarnya. Namun, ke dua generasi ini belum mempu membuktikan diri layak sebagai tim yang dapat dibanggakan publik dan pecinta sepak bola nasional. Timnas U-16 terlebih dulu gugur di ajang Piala AFF U-16. Sementara generasi kedua, timnas U-22 meski baru melakoni laga pertama, penampilannya benar-benar mengecewakan. 

Perjuangan timnas U-22 memang belum berakhir, karena masih ada dua pertandingan sisa di grup H dengan meladeni Mongolia dan Thailand. Mengingat event ini hanya meloloskan juara grup dan runer-up, tim asuhan Luis Milla pun terancam angkat koper lebih cepat.

Kegagalan timnas U-16 di Piala AFF 2017 maupun kekalahan perdana timnas U-22 di Pra Kualifikasi Piala Asia U-23, memang harus disikapi secara arif dan bijaksana. Timnas U-16 memang gagal di Piala AFF U-16 kali ini, namun tim asuhan Fakhri Husaini  masih memiliki tugas suci di ajang sebenarnya yang lain, yaitu Pra Kualifikasi Piala Asia U-16, September mendatang. 

Untuk itu, dalam rangka menyiapkan tim agar tidak gagal kembali, PSSI benar-benar harus bersikap bijak dan tegas. Siapapun yang akan duduk di jajaran manajerial, jajaran pelatih, ofisial, maupun pemain, harus-benar-benar sosok dan karakter yang mumpuni, jauh dari taktik, intrik, dan politik yang tetap menjadi isu santer di media. 

Penggawa U-22 juga demikian, meski kalah di laga perdana, namun Evan Dimas dan kawan-kawan masih dapat memberikan dan menunjukkan jati dirinya dalam laga ke dua melawan Mongolia, serta menghadapi tim kuat Thailand di laga penutup grup. Masih ada kesempatan bagi Milla membuktikan layak tetap menakodai timnas di dua laga sisa sebelum menuju SEA Games.

Terlepas dari semua tuduhan, spekulasi, hujatan, makian, dan seabreg hal yang dilontarkan publik sepak bola nasional di media maupun dunia maya, PSSI memang harus bertindak cepat menyikapinya. Luis Milla haru dikawal agar tak membuat kesalahan lagi. Publik selalu mengikuti perkembangan timnas, tentu lebih memahami situasi dan kondisi pemain Indonesia yang seharusnya layak dalam timnas dan mendapat kepercayaan bermain demi nama bangsa.

Salah satu factor keterpurukan ini karena tidak adanya faktor pembeda serta pemain berpengalaman dan dapat diandalkan. Pemain yang dapat menyeimbangkan permainan, mengarahkan permainan, hingga kepemimpinan di lapangan. Di timnas U-16, ketidakhadiran Hamsa Lestaluhu yang menggondol pemain terbaik di Vietnam saat turnamen pemanasan, benar-benar menjadi petaka bagi pasukan Fakhri. Ketiadaan Hamsa sebelum berangkat ke AFF, sangat disadari bukan hanya oleh jajaran manajerial, jajaran pelatih dan ofisial, para pemain pun merasakan hal yang sama. Faktanya, keberadaan Hamsa dalam tim benar-benar menjadi sosok pembeda. 

Sementara Luis Milla, justru terus bermain api tatkala menjalankan proses pelatihan timnas, bahkan, hingga laga perdana. Publik tahu bahwa Evan Dimas dan Hansamu Yama, atau pemain lain yang juga memiliki talenta lebih di banding pemain yang dijadikan starter melawan Malaysia. Sayang, Evan dicadangkan dengan alasan strategi. Begitu Evan masuk, permainan berubah drastis. 

Publik juga tak henti menyesali, mengapa pasukan timnas U-19 di era Indra Syafri yang menorehkan prestasi dan dibentuk dengan cara luar biasa justru banyak tidak berada di dalam tim. Saat Evan dan Hansamu di bangku cadangan, bahkan pemain almunus Indra Syafri hanya tersisa Hargianto dan Putu Gede. Ironis, pembinaan sepak bola semacam apa ini! Siapa pembisik Milla hingga memilih pemain yang mengantarkan timnas dibantai 3-0!

Di ajang resmi dan pertandingan sebenarnya perdana inilah, Milla seolah membunuh karakter dirinya sendiri. Sangat keras kepala dengan tetap mempertahankan pendiriannya dengan kata-kata strategi demi menutupi kesalahannya. Apapun alasan Milla tentang kekalahan atas Malaysia, yang harus menanggung beban dan malu adalah rakyat Indonesia karena harus bertekuk lutut dikangkangi Malaysia. 

Bila timnas U-16 dan U-22 ingin menebus kesalahan atas kegagalan dan kesalahannya, seluruh pemangku kepentingan yang menaungi tim ini harus benar-benar memikirkan pemain dalam tim yang dapat diandalkan. Indonesia membutuhkan itu! Semua tim sepak bola selalu membutuhkan faktor pembeda dalam tim bila ingin meraih prestasi.

Melawan Arus
Dalam laga Piala Super Eropa, Rabu (10/08/2016), Real Madrid dalam hitungan detik akan menyerah pada Sevilla. Sang pembeda di Madrid adalah Sergio Ramos. Saat Madrid tertinggal 1-2 hingga menit 93, umpan dari Lucas Vazquez berhasil ditanduk oleh Ramos yang tengah berdiri bebas di depan gawang. Skor pun menjadi sama kuat 2–2. Wasitpun menutup pertandingan babak kedua. Di extra time, Dani Carvajal berhasil memastikan kemenangan Los Blancos 3 – 2.

Berbeda dengan Madrid, Ajax Amsterdam justru tersingkir di final Liga Europa pada Rabu (24/5/2017) di Friends Arena, Swedia. Kalah pengalaman dari Manchester United menjadi alasan utama. Perjalanan di delapan bear dan empat besar menunjukkan bahwa mental para pemain muda Ajax sudah teruji. Jadi, meski ini partai final, di mana atmosfer dan tekanannya berbeda, Bosz tidak peduli. Meski akhirnya, Ajax pun tersungkur di hadapan pemain MU. 

Fakta dari tim yang diasuh Zinedine Zidane memenangi pertandingan dan tim Peter Bosz kalah, benar-benar terletak pada pemain dalam tim yang memiliki daya pembeda dan sarat pengalaman. Zidane bersikap bijak dalam menangani tim, namun menyadari bahwa timnya memiliki kekuatan yang dapat diandalkan. Sebaliknya, Bosz mencoba bersikap bijak dengan melawan arus, namun faktanya, gagal. 

Lain cerita tentang keberhasilan timnas Jerman U-21 dan U-23 yang dalam tempo hitungan hari meraih Juara Eropa U-21 2017 dan Piala Konfederasi 2017. Daya pembedanya, terletak dari pola pembinaan dan perekrutan pemain yang menggaransi pemain timnas unjuk gigi dan meraih prestasi. Dari pembinaan berjenjang, menghasilkan pemain yang kompak dan menjalankan pertandingan secara tim, bukan individu. Sehingga seluruh pemain menjadi daya pembeda karena lebih mementingkan kolektivitas dan kerja sama tim. Mereka lahir dari pembinaan, pelatihan, dan kompetisi yang mengalir, mengikuti aliran teori menggapai prestasi yang benar. Itulah Jerman.

Semoga PSSI dapat mengavaluasi kelemahan timnas U-16 secara objektif dan transparan demi persiapan September mendatang dan tidak mengulang kegagalan. Berikutnya, Milla jangan keras kepala dan mengulang kesalahan serta tidak perlu mencari pembenaran. Apapun alasanmu tentang kelemahan dan kekalahan tim, terbaca oleh publik sepak bola nasional. Semoga, laga kedua dan ketiga Evan Dimas dapat menunjukkan kembali jati dirinya. 

Untuk Indra Sjafri dengan timnas U-19-nya, meski pernah mengantar timnas U-19 meraih trofi, tetaplah legawa dan rendah hati. Jadikan kegagalan dan kekalahan timnas adik dan kakaknya cambuk untuk penggawa U-19 lebih mawas diri dan berhati-hati, karena publik sepak bola nasional sangat mendambakan prestasi. Demi kebangkitan timnas, jangan melawan arus, membumilah dan mengalirlah!***

 

Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna