TOP OPINI FOOTBALL
Machiavellis Milan Disembur Naga, Era Pembaruan Dimulai
0
20 Juli 2017 05:00 WIB
Machiavellis Milan Disembur Naga, Era Pembaruan Dimulai
Diaz Abraham

Agustus Caesar, Julius Caesar, Constantine, Galileo Galilei, Benito Amilcare, Andrea Mussolini, Christopher Columbus, Guglielmo Marconi, dan Niccolo Machiavelli adalah orang-orang yang amat berpengaruh bagi perkembangan dunia. Mereka berasal dari Italia. Nama terakhir memiliki andil besar dalam menjelaskan bagaimana revolusi AC Milan berjalan di tahun ini sekaligus gambaran betapa kejamnya industri sepak bola saat ini.

Sepak bola modern kini lekat dengan industri, itulah sebabnya banyak klub memperkaya diri dengan banyaknya suponsor serta kuatnya modal pemilik. Sepak bola seakan keluar dari pakemnya sebagai permainan yang diciptakan manusia untuk melepaskan rasa penat serta meningkatkan kesehatan. Kekuatan finansial amat lekat bagi pelaku sepak bola modern.

Walau perdebatan soal asal usul sepak bola belum rampung hingga kini, setidaknya saya percaya satu hal bahwa tentara Inggris di sela peperangan melakukan permainan mirip sepak bola. Tengkorak manusia dijadikan sebagai bola dan mereka menendang-nendang kecil tengkorak itu sambil berlari. 

Dari deskripsi singkat ini terlihat bahwa sepak bola tak melulu soal uang, kehadirannya dimaksudkan untuk meregangkan otot-otot yang kaku dan menjernihkan pikiran yang dijejali kompleksitas hidup. Begitulah sepak bola terus berjalan, sampai akhirnya industrialisasi masuk ke ranah ini dan AC Milan akhirnya pasrah dengan perubahan ini hingga melakukan revolusi.

Kedatangan investor asal Cina berhasil mengubah wajah Milan yang dulunya dihiasi pemain-pemain uzur. Sebut saja David Beckham, Ronaldinho, Ronaldo, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Filippo Inzagi, Andrea Pirlo, Roberto Gilardino, Genaro Gattuso, Clarence Seedorf, dan Dida. Merekalah gacoan Milan mulai dari pertengahan 1990-an hingga 2013. 

Harus diingat pula, bahwa setelahnya Milan bukanlah apa-apa! Tim Seri A yang paling moncer di pentas Liga Champions ini tercecer di papan tengah klasemen. Berkat hasil ini, tifosi sejati mereka sering berulah menuntut perubahan manajemen.
 
Jelas kegagalan manajemen untuk mendatangkan pemain muda dengan kualitas jawara atau mengorbitkan pemain binaan akademi amat terlihat. Milan dirundung duka lainnya yaitu tersangkut banyak utang. Itulah alasan bos besar Silvio Berlusconi tak kuasa menjual sahamnya pada konsorsium asal Cina.

Beruntunglah Milan diakuisisi oleh tangan yang tepat, tidak seperti tetangganya yang pasif dalam bursa transfer kali ini walau sama-sama dibeli oleh konsorsium Cina. Pemilik baru mampu melihat persoalan yang membelit Milan. Pembelian pemain muda berkualitas macam Hakan Calhanoglu (23), Franck Kessie (20), Andres Silva (21), Fabio Borini (26), Ricardo Rodriguez (24), Andrea Conti (23) plus memermanenkan kiper masa depan mereka Gianluigi Donnarumma (18) adalah bukti sahih betapa pemilik baru amat memerhatikan kelangsungan 'si merah hitam'.

Namun yang namanya transisi kekuasaan pasti memakan korban. Bagi klub sepak bola, berarti pergantian banyak posisi di jajaran manajemen serta lampu kuning untuk jajaran kepelatihan. Jika melihat kondisi Milan, jumlah pemain mereka terbilang gemuk. klub yang bermarkas di San Siro ini nampaknya akan melego banyak pemainnya demi memangkas beban gaji serta menambah dana segar untuk membeli pemain baru, mengingat masih banyak pemain yang terus dikaitkan seperti Pierre Emerick Aubameyang dan Andrea Belotti. 

Inilah salah satu sisi negatif sepak bola industri. Uang mampu membeli segalanya dan melupakan loyalitas para pemain yang telah melakukan apapun demi harga diri klub. Ingatlah Carlos Bacca, pemain yang berhasil membawa Sevilla mempertahankan gelar Liga UEFA secara beruntun. Kepindahannya ke Kota Mode bukan tanpa sebab, ia ingin membawa kejayaan Milan, walau saat itu Milan tidak masuk Liga Champions. Niat yang amat mulia. Kini Bacca seakan pemain yang tidak diinginkan kehadirannya di tim. Apa sebab? Menurut saya, ia ketiban sial lantaran kondisi Rossoneri yang karut marut saat itu. Klub beberapa kali gonta-ganti pelatih dalam tempo yang singkat.

Keisuke Honda adalah pemain yang terkena dampak naik turunnya performa Milan. Pria Asia pertama pemegang nomor punggung keramat 10 ini merupakan tifosi sejati Rossoneri. Sejak kecil ia bermimpi bermain untuk Milan dan mengenakan nomor punggung warisan Seedorf. Bahkan, ia rela menunggu kontraknya habis di CSKA Moscow sebelum merapat ke Italia, walau banyak klub menginginkan jasanya. 

Awal kedatangannya, Honda digadang-gadang mampu mengembalikan kejayaan AC Milan dengan gol-gol indahnya dari servis bola mati. Setali tiga uang dengan Bacca, pria asal Jepang ini malah menjadi penghangat bangku cadangan.

Kini, saya mendakwa AC Milan adalah Machiavellis, sebutan untuk orang yang amat ambisius untuk mencapai segala cara. Machiavellis merupakan sinonim untuk menggambarkan sebuah kelicikan. Kata tersebut diambil dari seorang penulis bernama Niccolo Machiavelli. Karya fenomenalnya jadi pedoman para diktator berjudul Il Principe. 

Dalam bukunya, Machiavelli menceritakan bagaimana seorang penguasa mempertahankan posisinya di tempat yang ia rebut oleh Pangeran lain. Ia menyarankan untuk menghukum para penjahat negara, menghilangkan keraguan masyarakat, dan memperkuat kekuasaannya di posisi-posisi lemah. Pria kelahiran Florence, Italia ini juga menulis tentang menududuki daerah kekuasaan yang direbut agar dapat memantau segala pemberontakan sekaligus mampu meredamnya dengan cepat. 

Jangan heran jika Milan melakukan hal demikian, posisi-posisi kunci di jajaran manajemen diambil alih oleh ‘anak baru’. Mulai dari posisi presiden klub yang dulunya diisi oleh Berlusconi kini digantikan Li Younghong. CEO Klub yang dulunya dipegang oleh Adriano Galliani sekarang dipegang oleh Marco Fassone, dan nama perusahaan diganti menjadi Rossoneri Sport yang sebelunya bernama Fassone. Tindakan mengganti jajaran manajeman dan membeli seabreg pemain dilakukan untuk mendapat kepercayaan fan Milan yang gerah dengan kelakukan Berlusconi dan Galliani dalam urusan transfer pemain.

Namun dalam buku tersebut Machiavelli memberi pesan untuk berhati-hati terhadap masyarakat (baca: pendukung Milan) karena bisa membuat kericuhan. Para fan Milan yang membuka tangan untuk pemimpin baru biasanya menginginkan sebuah perubahan, tapi jika harapan itu pupus mereka akan membuka tangan untuk pemimpin baru lainnya. 

Kini kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk setan yang kehilangan taringnya dalam beberapa tahun ini agar bisa kembali garang di kompetisi domestik maupun internasional. Apakah tangan besi pemilik baru Milan bisa kembali membawa kejayaan? Jawabannya akan terlihat ketika musim kompetisi 2017/2018 rampung.***


Diaz Abraham
Pengamat Sepak Bola Internasional 
 

n
Penulis
nana sumarna