TOP OPINI FOOTBALL
Penyiaran Asian Games 2018 Bukan Monopoli Pemenang Lelang
18 Juli 2017 05:00 WIB
berita
Sumohadi Marsis

PERUSAHAAN media dari Swiss, IGBS (International Games Broadcast Services),  dalam bulan Juni 2017 kemarin telah memenangkan lelang untuk menjadi HB (Host Broadcast) Asian Games 2018 yang akan diselenggarakan  di Jakarta dan Palembang.

IGBS bukan nama baru. Mereka telah menjadi HB Asian Games pada tiga edisi sebelumnya, yakni 2006 di Doha, Qatar,  2010 di Guangzhou, China, dan 2014 di Incheon, Korea Selatan. Dalam tahap final lelang di Jakarta  yang diselenggarakan oleh Inasgoc (Indonesia Asian Games Organizing Committee) atau Panitya Penyelenggara AG 2018, mereka mengalahkan NEP, perusahaan media dari Australia.

IGBS dengan demikian akan menjadi “Tuan Rumah Penyiaran”, baik televisi maupun radio, untuk pekan olahraga internasional empat tahunan bagi bangsa-bangsa Asia edisi ke-18 itu. Melibatkan sekitar 10.000 atlet dan ofisial dari 45 negara, AG 2018 akan mempertandingkan 39 cabang olahraga dengan sekitar 490 nomer kejuaraan. 

Anggaran dana pemerintah yang dialokasikan Inasgoc untuk kegiatan tersebut berjumlah sekitar 60 juta dolar AS, atau hampir mencapai Rp 800 milyar. Jumlah ini sangat besar, bahkan terbesar dalam sejarah penyiaran acara olahraga di Indonesia. Terakhir, pemerintah mengucurkan dana Rp 43 milyar untuk penyiaran SEA Games 2011, juga di Jakarta dan Palembang.

Namun, dibanding biaya penyiaran tiga edisi Asian Games sebelumnya, jumlah itu paling kecil. Biaya penyiaran AG 2014 tercatat mencapai 74 juta dolar AS, sebelumnya AG 2010 menyedot dana sampai  100 juta dolar AS, dan penyiaran  AG 2006 bahkan meroket hingga 120 juta dolar AS.

“Biayanya memang sangat besar, tapi pekerjaannya juga sangat berat,” kata Linda Wahjudi, Direktur Broadcast Inasgoc. Ribuan pekerja teknis dan jurnalis televisi  akan mengoperasikan sekitar 450 kamera, ditambah 17 kamera khusus untuk narasi. 

Kualitas liputannya juga harus memenuhi standar OCA (Dewan Olimpiade Asia). “Kualitas liputan Asian Games harus mendekati standar mutu penyiaran Olimpiade. Karena itu tidak ada TV Indonesia yang mengikuti lelang, Kita belum sanggup,” ujar Linda, mantan atlet nasional sofbol yang kemudian menjadi wartawan sebuah tabloid dan produser sebuah TV swasta. 

Bagi Ilmu dan Teknologi
Menurut Linda, dalam kontrak kerja dengan Inasgoc, IGBS telah sepakat untuk tidak melakukan monopoli dalam melaksanakan tugasnya sebagai HB AG 2018. Selama ini, seperti pada penyiaran AG 2006, 2010 dan 2014, mereka juga tidak bekerja sendiri. 

Bisa dikatakan IGBS merupakan koordinator dari beberapa perusahaan dan stasiun televisi di seputar Asia. Mereka sudah dilibatkan dalam tiga edisi Asian Games tersebut, dan akan diajak kerjasama lagi untuk penyiaran AG 2018. Mereka antara lain KBS Korea selatan, CCTV China, Astro Malaysia, Mediacorp Singapura, dan CH5 Filipina.

Bagaimana dengan TV Indonesia semdiri? Linda memastikan, peran beberapa stasiun TV di Indonesia sendiri akan cukup besar, bahkan bukan hanya dalam liputan tapi juga produksi. IGBS akan memberikan legacy (warisan) yang tidak kecil kepada TV Indonesia maupun masyarakat, khususnya para mahasiswa yang menekuni bidang penyiaran, komunikasi, dan media. Dalam satu pasal khusus yang memang diminta Inasgoc, IGBS akan lebih dulu melaksanakan program pelatihan yang bertajuk “transfer of knowledge and technology”  atau bagi-bagi ilmu dan teknologi seputar dunia penyiaran dan media TV maupun radio. 
 
Sasarannya bukan saja para profesional TV dan radio  tapi juga para  mahasiswa di bidang media dan  komunikasi tadi. “Menurut rencana program pelatihan itu akan dilaksanakan pada bulan September 2017 pada dua perguruan tinggi,” kata Linda.

Untuk liputan maupun produksi, IGBS bahkan akan memberikan kepercayaan kepada beberapa stasiun TV Indonesia yang sudah berpengalaman untuk menjadi “lead”nya. Misalnya untuk liputan mengenai pertandingan bulu tangkis yang menurut IGBS stasiun TV Indonesia lebih ahli dan berpengalaman.

Hal yang sama juga akan diberikan oleh IGBS kepada stasiun-stasiun TV Indonesia yang sudah biasa meliput dan memproduksi pertandingan bela diri, khususnya silat dan wushu. Dalam peliputan sepak bola pun IGBS kemungkinan besar akan mempercayakannya kepada stasiun TV Indonesia. “IGBS akan lebih berkonsentrasi pada cabang-cabang olahraga Olimpiade, seperti atletik dan renang, yang memang lebih rumit, lebih menuntut keahlian khusus, dan membutuhkan lebih banyak kamera maupun peralatan pendukung,” ucap Linda. 

Dengan semua kesepakatan itu biaya penyiaran yang begitu besar jadi terasa memadai.  Setidaknya salah satu tugas Inasgoc itu akan menjadi bagian dari warisan terpenting diselenggarakannya AG 2018 di Indonesia. Seperti yang disimpulkan Linda,“Siaran televisi merupakan jendela terdepan dari citra Indonesia sebagai tuan rumah pesta olahraga Asia ini”.***

 

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 
 

n
Penulis
nana sumarna