TOP OPINI FOOTBALL
Setelah Juve, Bonucci Mencari Kebahagiaan di Milan!
0
17 Juli 2017 04:30 WIB
Setelah Juve, Bonucci Mencari Kebahagiaan di Milan!
Fhilip Makati Sitepu

Bagi segelintir pesepak bola profesional, torehan gelar tak selalu jadi alasan untuk setia membela klub. Di antara mereka ada yang memilih tetap loyal, lantaran faktor ini: Mendapatkan kebahagiaan! Bukan masalah walau jarang mengangkat piala, asalkan jiwa dan raga masih bersenang-senang di lapangan.
 
Mungkin terkesan remeh, namun faktanya hal tersebut terkadang sangatlah krusial bagi seorang pesepak bola dalam melanjutkan kariernya. Banyak contoh melibatkan nama-nama besar yang pergi meninggalkan klub mereka, padahal bertabur trofi juara. Zlatan Ibrahimovic, Iker Casillas, Dani Alves, Wayne Rooney, Carlos Tevez, David Beckham, Cesc Fabregas dan lain-lain.
 
Sejak memasuki era 2000-an, sebuah klub ditinggal pergi pemain kebanggaannnya lantaran kurang atau malah tidak menemukan kebahagiaan lagi, adalah kasus biasa. Kejadian terbaru, rasanya bakal langsung mengarah kepada sosok Leonardo Bonucci. Kepindahan bek berusia 30 tahun itu ke AC Milan, menggemparkan bak petir di siang bolong. Siapa menyangka Bonucci sudi meninggalkan Juventus? Publik tahu betapa terikat dan ikonik-nya seorang Bonucci di kubu “La Vecchia Signora”.

Dalam beberapa tahun belakangan, baik si pemain maupun direksi Juve kompak menolak proposal mercato. Mulai dari Barcelona, Chelsea, sampai Manchester City dibuat gigit jari. Pada Desember 2016, Bonucci memperpanjang masa bakti hingga 2021 di Juve. Namun, hanya dalam waktu 2x24 jam, segala ketidak mungkinan melihat Bonucci berganti klub sirna sudah. Dengan mahar Rp 640 miliar (40 juta Euro + bonus 2 juta), dia resmi dikontrak Milan sampai tahun 2022.

Di mata sejumlah kalangan, terlebih Juventini, keputusan Bonucci itu dianggap sebagai langkah mundur. Untuk apa bergabung ke “I Rossoneri”? Mengingat, mereka baru membangun tim juara dan belumlah selevel Juve. Bukankah lebih terlihat bagus dan berkesan menerima salah satu pinangan dari Barcelona, Chelsea, atau City. Jawabannya sederhana saja, sebab Bonucci yakin bakal menemukan kebahagiaan di San Siro! Milan adalah solusi ideal, lantaran klub maupun sejumlah penggawa “Si Iblis Merah” sudah dikenalnya.   

Di sisi lain, hilangnya kebahagiaan dan respek adalah pemicu perpisahan Bonucci dengan Juve. Bukan rahasia, kalau dia sempat terlibat adu mulut hebat dengan Massimiliano “Max” Allegri. Gara-gara kejadian tersebut keduanya dikenai sanksi oleh Juve, namun memberi hukuman bukanlah solusi. 

Bonucci semakin tak nyaman bekerja di bawah asuhan Allegri, malahan agak lepas kendali. Ia kerap terlihat ngomel sendirian, kabarnya lantaran heran dengan penerapan taktik Max di lapangan. Dengan situasi tertekan seperti itu, masih dapatkah bek bernomor punggung 19 ini mendapatkan kesenangannya? Bonucci sadar tiba waktunya untuk berpisah, tanpa perlu membuang waktu! Bila legenda sekelas Alessandro Del Piero saja akhirnya pergi, tepatkah Bonucci harus merasa ragu?

Sensasi Berbeda
Di tengah semaraknya aktivitas transfer beli pemain yang dilakukan Milan, perekrutan Bonucci merupakan sensasi tersendiri. Sama sensasionalnya seperti saat Mediaset pertama kali meletupkan kabar ini, Rabu (12/7). Wajarlah, bila sampai detik ini para penggemar Milan dilanda euforia menyusul bergabungnya Bonucci. Sambutan selamat datang hangat nan penuh gairah semacam itu, jelas semakin membahagiakan Bonucci. Ditambah lagi, suami Martina Maccari (eks model Italia) tersebut juga terpenuhi kebutuhannya.

Di Milan, Bonucci akan digaji 8 juta Euro (tertinggi di Seri A saat ini) belum termasuk bonus! Angka yang lebih tinggi ketimbang bayaran dari Juve (4,5 juta Euro per tahun). Jadi apa ini semua karena uang? Jangan sentimentil begitu, walau memang uang pun menghadirkan kesenangan. 
 
Coba bayangkan seberapa “cemburunya” Bonucci terhadap dua mantan rekan setimnya, Gonzalo Higuain dan Miralem Pjanic? Padahal, Higuain dan Pjanic baru bergabung dengan Juve tapi gaji mereka langsung di atas Bonucci. Kalau dipertimbangkan dari peran ataupun kontribusi, ketiganya sama-sama berandil besar dalam sukses “I Bianconeri”.
  
Kesenangan lain yang potensial didapat Bonucci di Milan, adalah sensasi menjadi seorang pemimpin. Bukan semata-mata memakai tanda ban kapten di lengan, melainkan menjelma sebagai pembimbing. Oleh karena faktor itulah, saya yakin personel tim nasional Italia tersebut tidak keliru memilih “Si Iblis Merah”.

Target Milan untuk musim ini sebut saja meraih scudetto atau berjaya di Eropa, walau Eropa untuk Milan belumlah Liga Champions. Hanya saja sensasinya berbeda, khususnya dalam misi menjuarai Seri A 2017/18. Karena mulai sekarang, justru Bonucci akan berjuang memimpin Milan meruntuhkan dominasi Juve di Italia. Sejak saat ini, bek berpostur 190 sentimeter itu, bisa membuat perhitungan dengan Allegri. 

Milan memang absen di Liga Champions, bahkan kepastian mentas di Liga Europa masih perlu diperjuangkan. Bersama rekrutan-rekrutan baru serta para penggawa lama yang dipertahankan, rasanya Milan bisa! Bagi Bonucci, setelah gagal di dua final Liga Champions, mungkin bagus sejenak menurunkan pandangannya. 

Kebagian Untung 
Terlepas dari pandangan skeptis sejumlah kalangan, saya justru menilai positif transfer Bonucci ini. Saya pikir Juve, Bonucci, dan Milan masing-masing kebagian untung. Sepintas, klub milik keluarga Agnelli tersebut terkesan paling menderita atas perginya Bonucci. Tapi, apa benar kubu Juve semenderita itu? Saat ini, mereka mengantongi tambahan dana segar untuk belanja pemain. Di luar sana, ada banyak bek potensial maupun berkelas dunia yang mungkin didapatkan. Untuk sementara, perhatian Juve terpusat kepada pemain belakang andalan AS Roma, Kostas Manolas.

Di bursa transfer musim panas ini, manajemen Juve memang tampak lebih bernafsu mendatangkan gelandang tengah. Dan juga, tambahan kekuatan di sektor penyerang sayap. Kepergian Bonucci tentu meninggalkan slot kosong, namun mungkin Juve sudah punya penggantinya. Saya maksud adalah Daniele Rugani, bek muda penuh potensi sayang minim kesempatan. Menyusul hengkangnya Bonucci, ada kans lebih besar bagi Rugani untuk tampil lebih rutin. Jangan lupa di skuat Juve juga masih ada Mehdi Benatia!

Satu hal yang saya kenal tentang Juventus, klub ini selalu mampu mencari penerus sepadan atas kepergian bintangnya. Sejak zaman saya bocah, ketika mereka harus rela ditinggal Zinedine Zidane (2001). Tak perlu lama mencari, datanglah Pavel Nedved sebagai jawabannya.

Siklus semacam itu terus berlanjut, baik ketika mereka ditinggal Fabio Cannavaro, Ibrahimovic, Carlos Tevez, Alvaro Morata, Arturo Vidal, sampai Paul Pogba. Apakah Juve merana? Hanya sesaat, sampai kemudian mereka tersenyum lagi sebab tetap berprestasi bersama rekrutan-rekrutan baru. 

Sementara bagi Bonucci sendiri, keuntungan yang diterimanya sangatlah jelas. Pertama, keluar dari situasi serba tak enak di Juve untuk mendapat kebahagiaan di Milan. Kedua, pindah ke klub besar Italia lain yang sedang berambisi mengembalikan kejayaannya. Ketiga, bergaji tinggi plus jadi pemimpin yang sebenarnya di sebuah tim. 

Bagaimana dengan Milan, yang sudah menghabiskan uang sekitar 608 miliar? Singkat saja, Bonucci adalah harapan baru. Fakta membuktikan, Milan diperkuat oleh duet bek tengah kenamaan setiap menjuarai Seri A. Musim ini dengan Bonucci – Alessio Romagnoli, mungkin dahaga “I Rossoneri” akan terbayarkan.**

 

Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

n
Penulis
nana sumarna